Advertisements

Status Quo 5G Amerika Serikat

Oleh: Ricky Suwarno

13 Mei 2019

Pepatah mengatakan, ketika seseorang kekurangan sesuatu dan sesuatu itu sangat diinginkan, dia akan semakin peduli terhadap hal tersebut. Demikian halnya, dengan suatu negara. Karena riset dan upaya keras Huawei sepuluh tahun yang lalu, industri komunikasi China telah berkembang pesat. Dan memimpin di Era 5G. Penindasan oleh Amerika Serikat, membuktikan kekuatan Huawei. Yang sekaligus mencerminkan kurangnya kepercayaan diri AS terhadap teknologi 5G-nya sendiri.

Bagaimana status perkembangan teknologi 5G di AS saat ini? Sehingga membuat Trump berusaha mati-matian dengan segala macam cara memfitnah, atau kata halusnya mencegah kebangkitan Huawei 5G.

Pada 1 Oktober 2018 yang lalu, Verizon meluncurkan layanan 5G Home di empat kota. Mengklaim sebagai perusahaan pertama di AS yang merilis layanan 5G Komersial. 5G Home, adalah 5G yang hanya bisa di pakai di rumah. Tidak dapat berfungsi seperti seluler. Verizon mentransmisikan sinyal 5G melalui stasiun pangkalan. Dan pengguna terhubung ke perangkat akses Internet di rumah melalui perangkat CPE dan WiFi di dalam rumah.

Singkatnya, 5G Home tidak memiliki atribut seluler. Fungsi 5Gnya sangat terbatas tidak seperti layaknya sebuah seluler phone. Dan hanya terbatas di pakai dalam rumah. Arti spesifiknya, wifi yang dipercepat.

Sebagai pemimpin operator komunikasi terbesar di AS, AT&T tentu saja tidak gembira melihatnya. Sehingga pada tanggal 21 Desember 2018, AT&T mengumumkan peluncuran layanan “5G +” di puluhan kota. Perbedaannya dengan layanan 5G Verizon yang non-standard 3GPP. 5Gnya AT&T adalah standar 3GPP.

Akan tetapi, masalah AT&T hampir sama dengan Verizon. Walaupun bisa menggunakan terminal ponsel 5G, tetapi harus melalui perangkat yang mirip dengan router WiFi. Hampir tidak ada bedanya dengan Verizon. Bahkan banyak keluhan dari pengguna, tidak ada perbedaan mendasar antara kecepatan 5G dan 4G yang disediakan AT&T.

Dua penyedia komunikasi lainnya, T-Mobile dan Sprint, sebaliknya tidak tergesa-gesa meluncurkan layanan 5G. T-mobile menggunakan pita frekuensi rendah T-Mobile 600MHz sebagai lapisan overlay. Dan gelombang frekuensi tinggi untuk lapisan berkapasitas tinggi (hotspot). Sedangkan, Sprint menggunakan Sprint 2.5GHz mid-band, sebagai lapisan kapasitas membangun jaringan seluler dengan cakupan terluas dan tertinggi.

Sprint berencana menggunakan pita frekuensi 2.5GHz membangun 5G melalui jaringan dual-koneksi 4G dan 5G. Bukannya, jaringan independen 5G. T-Mobile berharap mencapai 293 juta pengguna pada tahun 2024. Dengan kecepatan jaringan rata-rata 451 Mbps, dan kecepatan puncak 4,2 Gbps.

Dari status terkini empat operator di AS, bisa diringkas bahwa mereka belum ada perusahaan yang benar-benar bisa beroperasi 5G. Sebaliknya cuma kemampuan dalam beberapa sektor tertentu. Qualcomm, yang dulunya sangat berjaya, sekarang hampir menjadi sejarah. Selain beberapa hak paten 5G dan chip baseband, Qualcomm tidak dapat melakukan jaringan inti dan stasiun basis 5G. Jadi hanya bisa dianggap sebagai supplier paling mendasar.

Cisco dapat memanufaktur peralatan jaringan inti. Tetapi tidak dapat menciptakan stasiun pangkalan. Artinya, Cisco hanya dapat memakan sebagian kecil pasaran dalam 5G. Di masa lalu, Intel yang sangat jago dalam chip baseband, tetapi sekarang telah mengundurkan diri. Dari fakta diatas, AS tidak mempunyai perusahaan yang bisa mencakup semua rantai manufaktur 5G.

Saat ini, pemain utama 5G di dunia adalah Huawei, Nokia, Ericsson, dan ZTE (peringkat secara berturut-turut). Samsung mungkin bisa terhitung dalam 5 besar sesudah ZTE.

Karena Qualcomm dan Cisco tidak sejaya dulu lagi, makanya Amerika Serikat terpaksa membeli dari sekutunya, Nokia atau Ericsson untuk membangun jaringan 5G.

Itulah sebabnya, untuk mempertahankan hegemoninya dan memonitor semua peralatan komunikasi dunia, Trump berusaha mati-matian mencegah bangkitnya 5G Huawei. Meskipun dalam banyak sektor, AS masih sangat kuat. Tetapi, dalam bidang teknologi komunikasi, AS telah jauh tertinggal dibelakang China maupun Eropa.

Secara jujur, just like grandma says persaingan teknologi 5G baru saja dimulai. Masih ada banyak peluang bagi siapapun untuk menyalip dilengkungan. Kunci kompetisi 5G tergantung pada “skenario aplikasi” alias aplikasi teknologi. Harus diakui, AS memang sangat jago dalam inovasi teknologi inti. Sebaliknya, China mungkin lebih hebat dalam aplikasi teknologi. Apakah China dapat melahirkan raksasa baru seperti Google, Amazon, Facebook, atau Apple di Era 5G adalah hasil akhir dari kompetisi 5G.

Bagaimanapun juga, kompetisi 5G baru saja dimulai. Setiap negara mempunyai peluang untuk menang dalam balapan teknologi ini. Termasuk Indonesia.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, status quo 5G Amerika SerikatTags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: