Status Quo Kecerdasan Buatan

Status Quo Kecerdasan Buatan dan tantangannya di dunia saat ini. Hari ini, Artificial Intelligence sudah sangat banyak didiskusikan. Menjadi topik yang sangat Hot. Sehingga banyak muncul gejala yang kurang rasional menurut saya. Jadi masalah apa yang harus diselesaikan oleh AI di status sekarang ini dan masa depan?

Seperti kutipan dari Michael Jordan (nama yang sama dengan bintang bola basket Michael Jordan), pakar AI dan professor California University-Berkeley. Beliau mempunyai reputasi yang sangat besar dibidang AI. Dan kontribusi terkenal “recurrent neural networks”. Boleh di bilang inilah fondasi dari deep learning. AI secara tepatnya, Intelligence Augmentation (IA), yang artinya di perbesar secara intelijen atau cerdas.

Status Quo Kecerdasan Buatan

Menurutnya, standar intelijen dari apa yang dilakukan AI sekarang ini masih sangatlah dasar. Tetapi bisa memperluas kecerdasan manusia. Misalnya, Google membuat pengetahuan kita menjadi berlipat ganda. Voice recognition dan mesin penerjemah membantu meningkatkan bahasa dan komunikasi kita dengan bangsa lain.

Ataupun, big data yang telah banyak membantu professional muda mencari arah dalam karirnya. Di mana, dimasa lalu bakalan memerlukan pengalaman puluhan tahun. Karakteristik AI yang paling menonjol di tahap sekarang adalah, Intelligent dan Infrastructure. Seperti infrastructure cerdas, transportasi cerdas, rumah pintar, kota pintar, ataupun wearable devices.

Menurut penelitian dari mentor saya Prof. Wu, pakar AI dalam natural language dan team pembuat google penerjemah, karakteristik lain dari AI adalah Automatic Algorithm (AA). Dimasa lalu, kita yang menulis algorithm, dan computer yang mengerjakan.

Tetapi sekarang, AI yang menginstruksi computer untuk algorithm sendiri, dan menemukan pengetahuan baru. Professor Michael Jordan dan Professor Wu, mereka berdua mempunyai kesamaan bahwa, AI=Intelligence Augmentation (IA)+Intelligent Infrastructure (II)+Automatic Algorithm(AA).

Mesin intelijen + kecerdasan manusia:

Pada dasarnya tingkah laku dan pola pikir manusia adalah relatif mandiri. Masing-masing orang tidak tahu apa pikiran orang yang lain. Dan ini jelas menimbulkan masalah. Misalnya kemacetan lalu lintas. tetapi di lain sisi juga ada manfaatnya. Karena sudut pandangan yang berbeda sehingga kita menghindari banyak resiko dan kecelakaan.

Seperti yang kita ketahui, Proses kerja mesin intelijen adalah berdasarkan perhitungan skala besar atau big data. Jadi sebenarnya dia adalah suatu jaringan. Suatu networks. Ini tentu saja memiliki keunggulan. Lalu lintas cerdas membutuhkan konsistensi tindakan. Tetapi Yang menjadi masalah, misalnya metode yang digunakan oleh mesin intelijen pada dasarnya sama. Sehingga mesin intelijen Yang satunya menginstruksi untuk menjual saham, dan yang lainnya juga akan ikutan. Inilah yang menyebabkan harga saham anjlok.

Masalah kedua dari AI:

Mesin intelijen Tidak bisa mengerti masalah seperti yang di mengerti manusia. Misalnya, mesin intelijen bisa membedakan objek jauh lebih akurat dibanding kita. Tetapi bila dia berjalan sampai di tebing jurang, dia cuma bisa membedakan batu, pohon, kayu, laut dll.

Tetapi tidak bisa membedakan keadaan bahaya. Bila programmer tidak memberitahu mesin intelijen dalam tempat ketinggian harus berhenti, mesin intelijen masih belum berpengalaman dalam mengambil keputusan. Bahaya di tebing jurang. Jadi AI di saat sekarang masih jauh dari sempurna.

Masalah ketiga:

Dalam decade berikutnya, AI bisa mencapai tahap sebagai berikut: mobil tanpa pengemudi, menggantikan system dialog manusia, khususnya bidang layanan pelanggan yang hanya membutuhkan pengetahuan terbatas. Melacak kesehatan, membantu mendiagnosis atau mengobati penyakit berdasarkan pemantauan jangka panjang terhadap manusia.

Dalam 30 tahun mendatang, AI akan mencapai tahap yang lebih tinggi. Seperti innovasi. Ringkasan konsep dalam menciptakan kata-kata. Fleksibilitas. Mempelajari pengetahuan yang lengkap, dan menciptakan pengetahuan baru atas fondasi yang ada.

Professor Jordan dan Professor Wu sangat optimistik tentang perkembangan AI di masa depan. Menurut mereka dalam 10 tahun mendatang, manusia masih harus menstabilkan AI. Karena kebocoran mesin intelijen masih menonjol. Dan banyak resiko bila dioperasi terus dalam jangka waktu panjang.

Dilain pihak, menghindari AI disalahgunakan oleh tindakan criminal. Seorang jenius mungkin akan menggunakan AI untuk kejahatan. Di segi lain, Menetapkan system jaminan social yang baik. Karena dalam waktu dekat, kemungkina besar banyak pengangguran yang timbul akibat timbulnya AI. Dan tidak bisa dihindari.

Status Quo Kecerdasan Buatan
Berdasarkan kecerdasan manusia saat ini sudah sangat sulit untuk membuat terobosan besar dalam AI (Image: ACAMS Today)

Saya yakin Perlu waktu satu generasi, 30-50 tahun untuk mencerna revolusi teknologi baru. Mereka berdua yakin tidak akan muncul orang yang menganggur seperti yang dikutip dalam buku “sejarah singkat masa depan”. Alasannya, Ketika AI memudahkan orang untuk menciptakan kekayaan, kita akan memilih untuk menghabiskan waktu melakukan apa yang lebih kita sukai dan menyenangkan.

Merancang system AI yang lebih berguna, daripada hanya berspekulasi konsep atau kebutuhan yang tidak benar-benar perlu. Disamping itu, melindungi privasi. Dan berbagi data, membuat setiap orang merasa nyaman.

Menurut Prof. Wu, AI harus bisa menjelaskan penilaiannya sendiri. Walaupun AI bisa menemukan relevansi hari ini, tetapi tidak dapat menemukan logika. Sehingga mudah memutarbalikkan premis dan kesimpulan. Misalnya menurut statistic, orang yang minum kopi dibanding orang yang tidak minum kopi akan hidup lebih lama.

Tetapi data besar tidak memberitahu kita apakah itu alasan untuk minum kopi. Atau orang dengan standar hidup tinggi, lebih kaya, dan punya waktu luang untuk minum kopi. Jadi kenyataan dan kesimpulan, orang yang berumur panjang itu minum kopi. Yang terpenting, AI harus mencari tujuan jangka panjang. Bukannya menemukan sesuatu yang telah diketahui.

Just like what my grandma says, Status Quo Kecerdasan Buatan dan tantangannya saat ini Berdasarkan kepintaran manusia sekarang, mungkin sudah terlalu sulit untuk membuat innovasi yang sangat besar lagi. Sehingga kita perlu AI membantu manusia dalam penelitian ilmiah dan membuat terobosan baru lewat metodologi baru.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.