Advertisements

Sumber Daya atau Hambatan

Oleh: Ricky Suwarno

15 Mei 2019

Kisah mengenai big data sangat luar biasa. Melalui Palantir Teknologi, perusahaan perangkat lunak yang khusus menganalisa Big data dari Amerika Serikat berhasil membantu Gedung Putih menangkap Osama bin Laden di tahun 2005.

Di masa depan, Inti big data dinamakan “data socialization”. Hubungan antara manusia, dan hubungan antara manusia dengan data harus dikorelasikan dan disajikan oleh data. Itulah sebabnya banyak orang di AS menganggap Facebook jauh lebih berharga daripada Google. Melalui analisis data sosial, kita dapat memahami lebih dalam tentang orang, masyarakat, dan bisnis.

Bernardo Huberman, kelahiran Argentina, wakil presiden senior HP dan Direktur Social Computing Research Group di HP Lab, adalah salah satu ilmuwan pertama di dunia yang menggunakan data sosial untuk prediksi big data.

Dari perspektif data sosial, Meskipun keaktifan pengguna LinkedIn tidak begitu tinggi, tetapi datanya sangat berharga. Karakteristik dari big data bukanlah data itu sendiri. Melainkan wawasan data.

Data sosial memiliki hambatan yang besar. Tetapi, Selama big data berada ditangan, bahkan jika kemampuan analitisnya tidak begitu akurat, masih akan sangat membantu dalam mensukseskan suatu proyek.

Sebenarnya, Data sosial didunia terbagi atas dua kategori. Kategori terbuka, seperti Facebook. Dan, tertutup seperti WeChat. Informasi dan hubungan timbal balik yang diakumulasikan oleh data interaktif di WeChat, hanya di kuasai oleh Tencent. Tidak ada yang bisa memilikinya, apalagi digunakan.

Saat ini, semua orang tahu bahwa ada emas didalam big data. Sehingga sebagian besar perusahaan akan mengadopsi pendekatan yang relatif tertutup. Meskipun alat penggali emasnya tidak begitu kuat, tetapi mereka akan menjaga tambang emas ini. Dan tidak mengijinkan siapapun untuk menggalinya.

Mentalitas semacam ini akan menghambat perkembangan industri. Sehingga para ahli terbaik mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan data untuk dianalisis. Dan Masalah monopoli data akan lebih serius di masa depan.

Misalnya, Ray Kurzweil, seorang pengusaha terkenal Amerika, penemu dan penulis “the Singularity is near”, terpaksa harus bergabung dengan Google. Hanya untuk menggunakan data Google demi mempelajari kecerdasan buatan alias AI.

Data adalah asset inti semua perusahaan. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan data adalah bergabung dengan perusahaan seperti Google dan Facebook. Banyak perusahaan menggunakan aplikasi seluler dan cookie di browser untuk mendapatkan informasi pengguna. Dan kemudian melacak perilaku pengguna. Yang jelas merupakan pelanggaran privasi.

Adalah masalah waktu bagi pemerintah setiap negara, untuk mengawasi permintaan yang berlebihan dari penyedia layanan internet seperti Facebook untuk akses ke informasi pengguna. Dapat diperkirakan Bahwa generasi browser berikutnya tidak lagi mendukung cookie. Dan pihak ketiga tidak diizinkan untuk melacak perilaku pengguna tanpa batasan.

Sebaliknya, jika tidak menggunakan metode ini untuk mendapatkan data, big data hanya dimonopoli oleh perusahaan besar. Perusahaan kecil tidak akan memiliki jalan keluar atau peluang apapun. Integrasi data juga semakin sulit karena tingginya pangsa pasar perusahaan besar.

Satu-satunya jalan keluar adalah mengHasilkan data sendiri. Metode produksi data telah terdiversifikasi. Misalnya melalui akuisisi pihak ketiga plus analisis sendiri. Dengan menggabungkan pengumpulan data dan analisis untuk memberikan solusi lengkap kepada pengguna. Layanan yang dipersonalisasi, adalah keunggulan kompetitif nyata perusahaan Big data di masa depan.

Just like grandma says, Big Data sangatlah berharga. Dengan adanya big data baru bisa mendirikan startup sendiri. Sebaliknya, tanpa Big Data sulit untuk memulai bisnis apapun. Kombinasi data dan teknologi AI adalah pilihan terbaik. Perluaskan lebih banyak saluran, dan menggunakan lebih banyak data. Hanya Dengan mengintegrasikan data dan aplikasi sepenuhnya adalah jalan menuju kesuksesan di Era Kecerdasan Buatan.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Big dataTags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: