Perkembangan iklan televisi dan digital di Indonesia

Oleh: Ricky Suwarno

Jaman Now, Di era ledakan informasi, bagaimana menarik perhatian konsumen atau pengguna adalah suatu tantangan. Bagaimana supaya informasi atau iklan bisa menonjol, kreatif adalah jawabannya.

Walaupun iklan terkadang dianggap sebagai pengganggu. Di Saat menikmati siaran televisi. Atau video jaringan. Demikian juga, iklan di luar outdoors. Seperti MRTJ.Metro Jakarta. Tetapi iklan yang menarik, sebaliknya bisa berfungsi sebagai penghias. bahkan menghibur. Dalam tatanan suatu kota.

Berikut adalah beberapa pengalaman saya. Dan sudut pandangan yang bisa membantu meningkatkan ide kreatif suatu iklan.

Pertama, dari sudut persepsi. Kebutuhan fisiologis dan psikologis seseorang. Ide yang bagus bisa membangkitkan persepsi seseorang. Sebagai contohnya, sebelum munculnya iphone. Persepsi kita terhadap ponsel sangatlah terbatas. Pikirnya cuma Melakukan panggilan dan mengirim pesan teks. Itu saja.

Iklan yang kreatif akan menyiratkan konsumen. Bahwa mereka punya masalah. Dan produk kita bisa membantu menyelesaikan masalahnya. Umpamanya iklan Odol gigi, Crest. Apakah anda pikir gigi anda bersih dan sehat? Lihat, dan tampillah bakteri gigi di TV. Dan pasta gigi Crest secara efektif membunuh bakteri. Ini yang disebut membangkitkan persepsi konsumen.

Sudut kedua, motivasi. Tujuan seseorang melakukan sesuatu. Iklan yang bagus bisa memperoleh wawasan tentang motivasi nyata konsumen. Dan memberikan solusi. Misalnya, contoh iklan bor.

Konsumen membeli bor, bukan untuk bor itu sendiri. Yang mereka inginkan adalah lubang yang di buat bor listrik ini. Lubang inilah motivasi mereka sebenarnya.

Mungkin anda bertanya, bagaimana melihat motivasi konsumen? Saya rasa bisa diamati dengan menganalisis jalur perilaku manusia. Dan perubahan lingkungan.

Misalnya, di waktu kecil di masa SD. Seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya, saya suka menarik rambut cewek yang saya sukai. Demi Untuk menarik perhatiannya. Dan, Saya mungkin berhasil menarik perhatiannya. Tetapi, dilain pihak, sekaligus mungkin dibencinya juga.

Lalu apa hubungannya dengan perubahan lingkungan? Karena ulah saya, sang gadis (teman sekelas) melaporkan saya ke guru. Akibatnya, saya di hukum berdiri satu jam di ruang kepala sekolah. Dan menulis satu halaman penuh yang isinya, saya bersalah. Saya nakal. Saya minta maaf. Dan tidak akan berulang lagi.

Mendapatkan perhatian sang gadis adalah motivasi saya. Sedangkan di benci, menurut saya adalah jenis perasaan suka yang lain di saat itu. Bahkan kadang saya merasa tidak terganggu di benci.

Sudut ketiga, kebutuhan atau permintaan itu sendiri. Misalnya, mau membeli tiket kereta cepat, kita memakai aplikasi 12306. Atau sekarang kita bisa memakai c-trip maupun, Super app Alipay atau wechat untuk segala keperluan.

Sudut keempat, kategori. diharapkan setelah melihat ide gagasan tersebut, konsumen dapat berorientasi kepada gaya dan fungsi produk. Berdasarkan pengalaman sendiri. Misalnya, aplikasi Didi Chuxing. Uber atau Gojek di Indonesia.

Perusahaan Didi Chuxing mengidentifikasikan dirinya sebagai platform transportasi seluler. Atau platform layanan kehidupan. Tetapi kenyataannya, di mata pengguna, platform tersebut cuma aplikasi taksi. Atau, Meituan sebagai aplikasi seluler yang bisa dapat diskon. Untuk lunch atau dinner.

Jadi, jika anda beriklan dengan cara ini, sangat disayangkan, pengguna tidak akan mengerti maksud yang akan disampaikan.

Jadi bagaimana supaya pengguna bisa berorientasi ke produk yang kita harapkan? Mungkin salah satu caranya, menekankan seberapa hebat produk anda di segmen pasar bersangkutan. Berdasarkan data dan fakta yang ada.

Sebagai contoh, iklan awal dari ponsel palu (salah satu ponsel manufaktur dari China dengan target high end). Menekankan, ponsel terbaik di belahan bumi Timur. Belahan bumi timur ini menekankan segmentasi. Lalu apakah ponsel itu bagus? Saya rasa setiap orang mempunyai penilaian tersendiri. Tergantung kebutuhan masing-masing. Kreatif berdasarkan kategori ini menekankan posisi kepemimpinan mereka di segmen pasar.

Sudut terakhir, branding. Misalnya, pada masa awal, Lexus pernah membuat iklan perbandingan dengan BMW. Yang menunjukkan banyak parameter teknis bahwa Lexus jauh lebih bagus dari BMW.

Tetapi hasilnya? Konsumen tidak menerimanya. Karena konsumen biasa tidak peduli dengan detail teknis mobil. Mereka lebih peduli dengan perasaan dan harga.

Lalu, bagaimana bisa memahami nuansa branding?

Metodenya, mulai dari diri sendiri. Dan rangkum perasaan penggunaannya. Sebagai contohnya, Durex. Ultra tipis. Dengan slogan Yang menekankan, “Mari kita lebih dekat satu sama lain”. Ini adalah fokus. Karena setelah penggunaannya, konsumen cuma peduli pada perasaan, I FEEL GOOD. Awesome.

So, just like grandma says, dari ide-ide diatas, seperti perspektif persepsi, motivasi, kebutuhan, kategori dan branding. Temukan ide yang paling cocok sesuai kebutuhan sendiri. Saya yakin anda bisa membuat iklan yang membuat konsumen berteriak, Geee…God damn great. Kereeeen yah..

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, iklan indonesia yang paling banyak ditonton, iklan televisiTags: , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: