Advertisements

Gaya kepemimpinan Donald Trump

Oleh: Ricky Suwarno

The Spiritual Map of the United States. Amerika lagi. Yah, peta spiritual orang Amerika. Ketika mereka menemukan keraguan, mereka akan melihat-lihat peta ini. Ataupun di setiap pemilu AS, yakni pada saat perubahan yang besar, mereka akan membahas dan mencari fenomena atas sumber tersebut.

Untuk mengerti suatu Negara, pada dasarnya kita lebih percaya pada pengalaman sendiri. Tetapi pengalaman sendiri memiliki keterbatasan. Yang sangat besar. Misalnya, orang-orang China yang mengaku memahami Amerika, termasuk saya sendiri. Setelah lulus sekolah, mereka bekerja dan banyak terlibat dalam kehidupan sehari-hari dengan orang elite AS. Seperti Apa AS, sebenarnya mereka juga kurang tahu. Demikian pula, orang Amerika yang tinggal beberapa tahun di Beijing, atau Shanghai, mereka kemungkinan cuma mengerti beberapa sisi saja.

Trump terpilih sebagai presiden, dalam politik Amerika kelihatannya terjadi perubahan besar. Mereka berpikir mengapa White house bisa muncul orang seperti ini. Apakah ini pertama kali terjadi dalam sejarah mereka.

Seperti yang dikutip dalam benih Albion, gaya politiknya menekankan kepemimpinan pribadi. Dan dalam pengikutnya, ia berusaha membentuk ibadat pribadi. Kesetiaan pribadi yang ekstrim. Dan menentang semua orang yang berlawanan dengan dia. Kedengarannya sangat persis Trump, yah? Jawabannya bukan. Albion bercerita tentang presiden AS yang ketujuh. Andrew Jackson. Trump bukanlah presiden pertama dalam sejarah seperti itu.

Mereka berdua bukan mirip dalam karakter secara sederhana. Mereka memiliki tradisi spiritual umum dalam era yang berbeda. Yakni orang-orang yang tinggal di daerah perbatasan. Jenis orang cowboy yang sering kita lihat di film.

Dua presiden yang terpisah hampir 200 tahun, dengan karakter yang serupa? Ini menggambarkan apa?

Mereka berdua menempati ceruk ekologi posisi yang sama dalam politik AS. Kemenangan mereka bukanlah kemenangan pribadi. Melainkan kemenangan tradisional. Bagi mereka yang kurang mempelajari sejarah, sebenarnya kepribadian mereka hanyalah representasi. Penampilan luar.

Sebagai contohnya, sebuah baskom air, bila di siram ke tanah, dia akan mengalir dan terserap dengan cepat. Dan bebas. Namun, jika di siram ke sungai atau laut, arah dan laju alirnya dibatasi secara ketat oleh struktur geografis. Dan sangat Stabil untuk waktu yang sangat panjang. Jadi tidak peduli, air apa, bila mengalir sampai di sini, anda akan berperilaku seperti itu juga. Karakter hanyalah sebuah penampilan. Dibelakangnya, tersembunyi serangkaian system strategi serupa.

Atau misalnya lagi, gaya kinerja setiap actor berbeda. Namun actor yang paling Hot di setiap era, Cuma ada satu yang terpanas. Permainan mereka juga hampir sama.

Demikian juga dengan presiden AS. Presiden dengan sifat semacam ini akan muncul di panggung. Ini adalah keputusan jalan cerita atau skrip. Namun, cara bertindak saat bermain harus serupa. Dia harus mengadopsi serangkaian strategi tindakan yang sama. Jika tidak, pemilih dalam tradisi itu tidak akan mendukung dia.

Dengan kognisi ini, mari kita lihat Trump lagi. Dari beberapa tindakan dia dalam dua tahun ini, sampai pada kasus penangkapan CFO Huawei, Sabrina Meng. kita dapat memprediksi tingkah laku dia selanjutnya. Itulah manfaat belajar sejarah. Sejarah memberikan kita sebuah model untuk melihat fenomena.

Setelah Trump terpilih, Atlantic Monthly membandingkan zona pemilih Trump dengan zona yang hidup di daerah perbatasan. Dan terdapat banyak kesamaan yang luar biasa. Orang-orang yang hidup di perbatasan AS adalah para imigran pada abad ke 18. Mereka suka berdebat. berkelahi. Agresif. Dan sangat diskriminasi terhadap orang luar. Mereka Tidak dapat berintegrasi dengan masyarakat AS. Jadi mereka tinggal terpisah didaerah yang relatif pedalaman. Yang dikemudian hari menjadi cowboy. Seperti yang kita kenal hari ini.

Pernah ada statistic pada abad 19. Banyak kejadian atau insiden kehilangan kapal uap di lembah sungai Missisippi. Dan sebagian besar bangkai kapal uap ini ditemukan dibagian selatan AS. Zona tinggal orang-orang di perbatasan. Orang-orang cowboy. Mengapa? Karena sifat buruk mereka yang pemarah.

Ketika mereka naik perahu, dan melihat kapal di sebelah yang lebih cepat. mereka akan mengejar dan menangkapnya. Dan merusak sampai katup pengaman kapal uap rusak. Sampai terjadi kecelakaan. Itulah sebabnya, banyak orang amerika berkata bahwa berlayar di sungai missisippi jauh lebih berbahaya daripada melintasi lautan atlantik.

Dan, Gaya ini sangat jelas terlihat dalam diri Trump.

Beberapa saat yang lalu, trump pernah di Tanya oleh seorang reporter. Siapakah musuh paling besar AS di dunia? Jawabnya, Kita mempunyai banyak musuh. Rusia. China. Iran. Uni Eropa. Dan media. Semuanya adalah musuh negeri ini.

Intinya bukan pada siapa musuh mereka. Intinya adalah kita tidak pernah mendengar trump bilang siapa temannya. Trump memperkuat gaya kepemimpinannya dengan menciptakan banyak musuh. Inilah gaya kepemimpinan presiden gaya perbatasan.

Suatu ketika, Pernah ada sensus di AS, yang bertanya, darimana asal leluhurmu. Seperti diketahui, selain orang indian, semuanya adalah orang imigran. Baik yang datang dari Inggris. Meksiko. Jerman. Afrika. Maupun Asia. Tidak ada pilihan untuk “orang Amerika” dalam sensus tersebut. Namun, banyak orang perbatasan akan dengan keras kepala mengisi sebagai orang AS. Yang artinya, saya orang Amrik, dan saya merasa bangga.

Ketika Trump memulai kampanye, dia tidak menekankan patriotismenya. Sebaliknya, dia menggunakan ekstradisi/diskriminasi luar untuk menekankan patriotismenya. Dia selalu mengatakan orang Meksiko sebagai imigran illegal yang pemerkosa dan pembunuh. Dia mau membangun Tembok besar. Yang kayak di China. The Great Wall. Dan mengusir Islam untuk masuk ke AS.

Bahkan dalam pidatonya, dia berkata terus terang. Dia akan mengikuti dua prinsip sederhana. Membeli barang-barang Amerika. Dan mempekerjakan pekerja Amerika. Dengan System wacana ini, bahkan banyak orang Amerika juga merasa tidak enak di dengar. Tetapi…sorry….hal ini bukan ditujukan kepada mereka. Melainkan kepada para pendukungnya yang tinggal di daerah perbatasan. Jadi trump tidak berjuang sendirian. Melainkan tradisi eksklusif 300 tahun yang lalu. Tradisi ini memiliki fitur yang sangat jelas. Budaya anti-elite.

Arus utama masyarakat Amerika, sangatlah mementingkan pendidikan elite. Terutama kaum Puritan dari New England. Tetapi sayangnya, orang di perbatasan tidak peduli system tersebut. Konsep mereka, saya miskin. Dan mulia. Dan membenci budaya elite. Trump sangat senang menunjukkan segi kasarnya, bahkan secara terbuka berkata, saya sangat suka orang-orang dengan pendidikan rendah.

Trump bukan orang daerah perbatasan. Bukan. Dia lahir di distrik Queens, New York. Dengan logat aksen murni orang New York. Lulusan Wharton School of university of Pennsylvania. Sekolah paling bergengsi. Elite klasik. Murni Amerika.

Kampanye pemilu bukanlah sekedar keliling atau belanja di supermarket. Bisa mengambil barang apa yang anda inginkan. Kampanye adalah pertunjukan khusus untuk sekelompok orang tertentu.

So, like my grandma says again, kinerja Trump akan mempertahankan lintasan umum seperti skrip diatas. Tradisi spiritual yang sudah ditentukan orang-orang perbatasan 300 tahun yang lalu. Trump bukanlah presiden pertama dari tipe ini. Dan bukan yang terakhir juga.

Yang bisa membatasi Trump bukanlah factor external. Melainkan tradisi spiritual lainnya dari Amerika sendiri.

Itulah pentingnya belajar sejarah. Karena apa yang terjadi dalam sejarah akan terulang lagi. Misalnya, penjajahan Belanda dan Jepang atas Indonesia. Ataupun penguasaan AS atas Freeport di papua.

Seperti kutipan yang sering saya dengar di waktu kecil, di Kalimantan. “Ini masih formula yang dulu, dengan rasa yang sama”.

Demikian juga dengan orang perbatasan Amerika, dan Trump. Bedanya cuma, Trump, Superman ini tak bisa terbang.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Bekraf, Big data, Blockchain, Data, Donald Trump, Gaya kepemimpinan, IoT, Kecerdasan buatan, Machine learning, Making Indonesia 4.0, Presiden Jokowi Widodo, Smart cityTags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: