Tantangan bersama ekonomi global

Tantangan bersama ekonomi global telah menjadi masalah utama Dana Moneter Internasional (IMF), yang belum lama ini menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2019 menjadi 3%. Level terendah sejak krisis keuangan 2008. Ada banyak analisis tentang penyebab perlambatan ekonomi, diantaranya adalah perang dagang yang dipicu  Donald Trump.

Hanya dengan menghilangkan hambatan perdagangan, dan mengurangi ketidakpastian politik dunia baru dapat membangun kembali kepercayaan investasi. Namun, dalam masalah ini pemikiran mantan ketua Federal Reserve AS, Alan Greenspan agak berbeda.

Tantangan bersama ekonomi global

Pada tanggal 12 November yang lalu, Alan Greenspan berpartisipasi dalam pertemuan tahunan “Caijing Media Tiongkok” dan memulai dialog dengan Professor Zhu Min, Dekan Institut Penelitian Keuangan Nasional Universitas Tsinghua. Greenspan percaya bahwa akar penyebab melemahnya ekonomi global terletak pada struktur demografis.  

Greenspan pernah menjabat sebagai ketua Fed paling sukses selama masa jabatan 19 tahun. Ekonomi AS saat itu mengalami pertumbuhan terpanjang sejak Perang Dunia II. Tentu saja, setelah pecahnya krisis keuangan pada tahun 2008, banyak orang yang menoleh padanya dan meminta dia bertanggung jawab atas krisis keuangan.

Teman bicaranya dalam acara tersebut, Professor Zhu Min juga pakar ekonom kelas berat di China. Professor Zhu Min pernah menjabat sebagai wakil presiden Dana Moneter Internasional, dan wakil presiden Bank Rakyat Tiongkok (PBOC). Ketika kedua pakar Ekonom ini berbicara, orang-orang akan mendengar dan selalu menarik perhatian dunia.

Para ekonom telah memperhatikan fenomena yang patut dikhawatirkan tahun ini. Sejak tahun 2008, investasi global telah menurun. Amerika Serikat sebagai contohnya. Dibandingkan dengan 2008, investasi AS telah menurun 3 poin persentase. Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa muncul kelemahan investasi global ini?

Menurut Greenspan, dunia sebenarnya menghadapi masalah yang sama yaitu penuaan populasi. Proporsi populasi di atas 65 tahun telah meningkat dalam populasi global. Dari 12% di tahun 1980 menjadi lebih dari 14% pada tahun 2000. Dan kemudian menjadi 18% di tahun 2018.

Pertumbuhan populasi yang menua menciptakan dua tren Dunia. Pertama, proporsi pengeluaran kesejahteraan sosial dalam PDB mulai meningkat. Kedua, proporsi tabungan mulai menurun. Besarnya kedua perubahan hampir serupa. Tren ini tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga di Inggris, Jepang, China dan kawasan Eropa lainnya. Ini berarti, pengeluaran untuk dana kesejahteraan telah memeras ruang untuk tabungan.

Misalnya, biaya medis akan meningkat setelah kita bertambah tua. Sehingga semua orang akan menghemat uang untuk perawatan medis masa depan. Pemerintah berusaha  meningkatkan tunjangan medis. Juga berusaha menutupi sebagian besar biaya medis kita.  Namun, Ada yang merasa bahwa setoran medis tidaklah perlu dan dapat dibelanjakan.

Studi Universitas Kansas menemukan antara 1984 dan 1993, peningkatan dukungan Dana Medis oleh pemerintah federal AS menyebabkan tingkat tabungan orang-orang Amerika berpendapatan rendah turun 17,7%. Sementara konsumsi naik dan meningkat 5,2%. Studi tahun 1984 juga menemukan bahwa untuk setiap $1 yang diinvestasikan dalam kesejahteraan sosial, tabungan pribadi rakyat AS akan berkurang 45 sen.

Secara teori, itulah kenyataan yang terjadi. Tetapi, korelasi tidak harus sama dengan kausalitas. Tabungan masyarakat dan perilaku konsumsi sangatlah kompleks. Mungkin bukan cuma faktor ini yang dapat menjelaskan pengeluaran kesejahteraan. Penuaan membuat penurunan tabungan. Itu adalah fenomena nyata. Ketika orang menjadi tua dan tidak ada lagi pendapatan, mereka akan menghabiskan tabungan sebelumnya.

Penurunan tabungan akan membawa serangkaian masalah berantai bagi perekonomian. Seperti penurunan investasi domestik.

Dari data yang diberikan Greenspan, pertumbuhan tabungan dan investasi selalu dalam arah yang sama dalam ekonomi AS. Ketika tabungan tinggi, kuota investasi juga tinggi. Dua garis hampir bersamaan. Sampai beberapa tahun ini, jumlah investasi telah melampaui jumlah tabungan. Ini terutama disebabkan oleh subsidi dari dana eksternal. Penurunan tabungan, menyebabkan investasi domestik di Amerika Serikat juga ikut menurun.

Sejak 2010, tingkat pertumbuhan produktivitas sosial Amerika mulai menurun secara signifikan. Dari 1995 hingga 2010, produktivitas meningkat 2,8% per tahun. Tetapi antara 2010 dan 2018, tingkat pertumbuhan turun menjadi 0,7%.

Produktivitas yang rendah pada gilirannya akan menyebabkan upah pekerja tidak dapat dinaikkan. Dan inflasi tetap rendah. Keadaan inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi rendah, dan suku bunga rendah adalah fitur khas dari “resesi Jepang.” Karena itu, dalam dialog Professor Zhu Min bertanya pada Greenspan, jika hal ini terus berlanjut, akankah dunia memasuki “resesi Jepang”?

Menurut Greenspan, China layak dijadikan referensi. Salah satu alasan mengapa PDB per kapita Tiongkok dan standar hidup masyarakat telah meningkat tajam dalam periode waktu yang singkat adalah tabungan dan investasi Tiongkok memiliki proporsi PDB yang sangat tinggi. itulah karakter dasar orang Tiongkok. Suka menabung.

Dalam 15 tahun terakhir, rasio ini selalu berada di atas 40%. Dibandingkan dengan rasio Amerika Serikat pada saat yang sama selalu di bawah 20%.

Walaupun dengan fondasi yang begitu kuat, China juga mengalami situasi di mana ruang tabungan telah diperas. Dari 2008 hingga 2018, pangsa tabungan dalam PDB Tiongkok turun dari 50% menjadi 45%. Pada periode yang sama, belanja kesejahteraan sosial naik dari 3% menjadi 8%.

The question is now, apakah ada solusi untuk masalah penuaan populasi ini?

Tantangan bersama ekonomi global
Tantangan bersama ekonomi global (Sumber: Caijing)

Jawabannya terletak pada satu negara, Swedia. Sejak pertengahan 1990-an, Swedia telah menerapkan reformasi sistem pensiun. Namanya pensiun pembukuan.

Singkatnya, walaupun Sistem ini agak rumit dijelaskan, tetapi dana pensiun yang didapat setiap orang bukanlah jumlah yang tetap berdasarkan pada pendapatan historis dan tahun kerja. Tetapi berdasarkan kontribusi kinerja kerja dan nama aktual setiap orang. Jumlah pensiun yang dibayarkan akan berfluktuasi. Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, atau ketika usia kehidupan orang dapat diperpanjang, anuitas pensiun akan diturunkan.

Program ini tidak mudah diimplementasikan. Itulah sebabnya mengapa sampai saat ini hanya diterapkan oleh beberapa negara Eropa seperti Swedia, Italia, dan Polandia. Tapi jika kita tidak mereformasi, investasi global akan terus lamban. Akibatnya, reformasi pensiun merupakan masalah besar.

Just like grandma says, analisis Alan Greenspan dan Professor Zhu Min memberi kita perspektif yang berbeda tentang masalah hubungan internasional. Di masa lalu, ketika  menganalisis hubungan internasional, kita seringkali melihat dari sudut pandang geopolitik. Menganggap hubungan internasional sebagai suatu permainan atau pertukaran kepentingan antar negara. Tetapi analisis kedua pakar ekonom ini menunjukkan bahwa tantangan bersama ekonomi global sebenarnya menghadapi lawan yang sama. Yaitu penuaan populasi dinamika pembangunan ekonomi jangka panjang.

Advertisements
Categories: tantangan bersama ekonomi global

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: