Advertisements

Tantangan besar dalam perkembangan e-commerce Indonesia

Oleh: Ricky Suwarno

3 april 2019

Di Indonesia, sejak akhir tahun 2015 memasuki era smartphone, bisnis e-commerce mulai tumbuh subur. Tidak hanya konsumennya tetapi juga persaingannya. Persaingannya terus tumbuh. Dan semakin ketat dari tahun ke tahun. Sampai akhirnya, banyak yang terpaksa menutup layanan. Atau pivot ke sektor niche yang lain dan pindah jalur.

Demikian halnya, dengan di China pada awal tahun 2000. Saat di mana bisnis e-commerce mulai bangkit. Penggalangan tahap pendanaan yang besar bukan jaminan kesuksesan di masa depan. Seperti halnya, hukum rimba. Dalam berbisnis sebagian perusahaan akan keluar sebagai pemenang. Sedangkan, saingan lain keluar sebagai pecundang.

Bila suatu startup masih ada kabar di 3 tahun kemudian, ada kemungkinan startup tersebut bisa bertahan dan berkelanjutan. Bayangkan, pasaran yang lima kali lipat jauh bersaing dari pasaran Indonesia. Sehingga, tingkat keberhasilan startup di Cina sekitar 1%-3%. Dan probabilitas kegagalan setinggi 95%-99%. Pertanyaannya, apakah Anda masih ingin membangun startup?

Menurut statistik, diantara Sepuluh perusahaan e-commerce, ada delapan yang gulung tikar. Mengapa?

Terlepas dari segmen pasar yang ditargetkan, penjual mungkin kewalahan oleh potensi volatilitas pasar. Sehingga sulit untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Kurangnya rencana bisnis yang layak dan keahlian dapat menyebabkan kegagalan. Banyak penjual online mencoba untuk mendapatkan pengembalian yang stabil di jalur yang benar. Tetapi targetnya preferensi pembeli juga dapat membawa banyak ketidakpastian kepada penjual.

Peringkat pencarian atau page rank lebih rendah.

Google adalah pilihan yang paling disukai untuk banyak pencarian online. 35% pembeli online lebih suka mencari produk melalui Google. Mengoptimalkan peringkat halaman hasil mesin pencari (SERP) situs menjadi sangat penting. Toko online dengan ranking yang lebih rendah, cenderung tidak mendapatkan perhatian dari potensial pembeli. Sebaliknya, pesaing akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan peringkat pencarian yang lebih tinggi.

CEO Wal-Mart Joel Anderson mengatakan: “Anda tidak dapat membuka toko online, dan hanya menunggu orang datang. Jika Anda benar-benar ingin sukses, Anda harus menciptakan traffic terlebih dahulu.”

Kurangnya ketekunan

Kurangnya kesabaran dan ketekunan menyebabkan banyak penjual dalam kebingungan. Proporsi e-commerce yang gagal, dan yang sukses terus meningkat. Diantara 10 e-commerce peralatan rumah, ada 8 perusahaan yang ditutup pada tahap awal pengembangan mereka (dalam 24 bulan). Jack Ma, si Godfather e-commerce terbesar di dunia, dan pendiri Alibaba pernah berkata: “Kesabaran adalah kualitas terpenting yang harus dimiliki setiap startup”

Biaya pengiriman atau ongkir yang terlalu tinggi

Penjual kadang-kadang lebih cenderung membebani pembeli dengan biaya pengiriman yang lebih tinggi. Yang mengakibatkan tingkat pendapatan dan konversi yang lebih rendah.

Sebagai startup, penjual dapat mempertimbangkan untuk menawarkan pengiriman gratis ke pelanggan awal. Untuk meningkatkan jumlah pelanggan. Karena 23% pembeli merasa senang dengan harga yang mereka bayar untuk membeli produk tersebut. Atau, 70% pembeli hanya bersedia membayar di bawah $ 4,99 ongkir.

Keamanan situs yang kurang terjamin

Jika situs web yang dikunjungi tidak aman, 84% konsumen akan menolak untuk berbelanja di situs web lagi.

Tata letak halaman yang kurang menarik

Jika situs tidak menarik, 38% konsumen akan meninggalkan situs. Ingat, pembeli pergi bukan karena mereka tidak tahu kualitas barangnya, tetapi situs webnya yang terlalu jelek.

Halaman memuat terlalu lambat

Jika halaman memuat terlalu lambat, 39% konsumen akan menyerah, dan langsung pergi.

Pengalaman terminal seluler terlalu buruk

Penelusuran Seluler Google menyumbang 96% dari total penelusuran seluler. Google mengatakan: “Penerapan seluler situs adalah salah satu faktor dalam tingkat peringkat Google.”

Pengembalian barang yang rumit

Kebijakan pengembalian yang tidak nyaman dapat menakuti 80% pembeli.

Kurangnya tampilan barang yang efektif

Penelitian menunjukkan bahwa video dapat secara efektif meningkatkan tingkat konversi halaman produk sebesar 84% -144%.

Kepuasan pelanggan rendah

95% pembeli setidaknya pernah mengeluh pengalaman berbelanja yang buruk dengan seorang teman. Lebih dari 54% pembeli, berbagi pengalaman berbelanja yang buruk dengan setidaknya 5 teman.

Kurangnya pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan

56% konsumen percaya bahwa penjual harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan mereka. 51% konsumen merasa penjual mempromosikan terlalu banyak konten yang tidak relevan untuk kebutuhan mereka

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, bisnis e-commerce Indonesia, tantangan dalam perkembangan bisnis e-commerce Indonesia, tantangan e-commerce IndonesiaTags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: