Advertisements

Tantangan Rantai Pasokan Global

Oleh: Ricky Suwarno

1 Juli 2019

Persaingan global AS-China telah menjadi fokus perhatian dunia. Terutama kemenangan dan kekalahan antara China dan Amerika Serikat. Tidak peduli bagaimana hasil persaingan ini, dunia kita telah berubah. Secara khusus, rantai pasokan global akan mengalami perubahan besar.

“Rantai pasokan global” adalah cara di mana sistem ekonomi global terbentuk. Misalnya, asal sumber daya, dari mana barang diproduksi, atau bentuk organisasi dsb. Singkatnya, Cara semua sumber daya ekonomi mengalir.

Perubahan “rantai pasokan global” jauh lebih penting daripada tarif impor dalam perang dagang. Karena ini adalah faktor jangka panjang. Yang menentukan bangkit atau turunnya suatu negara di masa depan.

Saat ini, rantai pasokan global sedang mengalami tiga tantangan besar.

Salah satunya, unilateralisme dari Amerika Serikat. Selain faktor AS, “perubahan prematur dari keunggulan komparatif” dan kecenderungan monopoli perusahaan-perusahaan Raksasa.

Posisi suatu negara dalam rantai pasokan global ditentukan oleh sumber dayanya. Misalnya, Brasil dan Australia memiliki banyak sumber daya bijih besi. Sehingga mereka menjadi penyedia sumber daya dalam rantai pasokan global. Industri keuangan AS sangat maju, sehingga AS menjadi pemasok modal dalam rantai pasokan global.

Namun, posisi masing-masing negara dalam rantai pasokan global terus berubah. Begitu Endowmen sumber daya berubah, posisi negara ikut berubah. Misalnya, China. Mulai kaya. Upah meningkat. Dalam industri padat karya, keunggulan komperatifnya ikut melemah.

Awalnya adalah hal yang baik. Selama perubahan ini bertahap, para pihak bisa punya waktu yang cukup untuk beradaptasi. Namun, sekarang ada situasi baru dalam sistem ekonomi global. Proses perubahan menjadi terlalu intens. Bahkan terlalu dini. Sehingga, Ini telah menjadi tantangan baru.

Saat ini, China masih merupakan pusat manufaktur global. Melemahnya keunggulan komparatif China dalam manufaktur padat karya datang terlalu dini. Dan terlalu cepat.

Pada tahun 2018, menurut Organisasi Buruh Internasional, proporsi angkatan kerja pertanian China sebesar 27%. Dengan kata lain, diantara satu dari empat orang di Tiongkok tinggal di pedesaan. Angka ini hanya 2,9% di negara maju.

Tetapi pada saat yang sama, pangsa industri manufaktur China dalam perekonomian mulai menurun. Proporsi industri manufaktur China mencapai 36,8% pada tahun 1996. Yang merupakan puncak dalam sejarah. Dan telah bertahan pada level ini selama 10 tahun ke depan. Setelah tahun 2006, semuanya terus menurun. Sampai Pada 2017, sektor manufaktur turun menjadi 29,3%.

Seiring pertumbuhan ekonomi suatu negara, proporsi manufaktur menurun, dan proporsi layanan akan meningkat. Ini adalah fenomena normal. Namun, fenomena China muncul terlalu dini.

Pada tahun 1953, proporsi manufaktur di Amerika Serikat mulai menurun. Proporsi pekerja pertanian turun sampai 7%. Pada tahun 1970, sektor manufaktur Jepang juga mulai menurun. Tenaga kerja pertaniannya menyumbang 19%. Di China, ketika rasio manufaktur menurun, China masih memiliki 27% dari populasi pertanian. Tidak hanya itu, ketika proporsi industri manufaktur China menurun, PDB per kapita hanya 3.069 dolar AS. Jauh lebih rendah daripada AS dan Jepang. Tentu saja, ini karena penduduk China yang beberapa kali lipat dari kedua negara ini.

Telah banyak perdebatan seputar ekonomi terencana selama 100 tahun terakhir. Ekonomi terencana dianggap tidak cocok untuk praktek dunia. Karena pengetahuan dan informasi manusia tidak terpusat. Hanya melalui sistem harga atau mekanisme pasar, pengetahuan dan informasi dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan ekonomi yang efektif.

Namun, teknologi baru telah datang. AI atau Kecerdasan Buatan dan data besar berkembang pesat. Begitu banyak kamera cerdas (Facial Recognition) yang merekam semua tingkah laku kita setiap hari. Begitu banyak alat pembayaran yang bisa melacak setiap transaksi. Begitu banyak produk Internet menganalisis setiap tindakan pengguna.

Kemampuan teknologi saat ini dalam mengintegrasikan pengetahuan dan informasi pasti dapat melampaui sistem harga dan mekanisme pasar di kemudian hari.

Perusahaan besar menjadi semakin besar. Bahkan menjadi raksasa. Dari ujung ke ujung, perusahaan-perusahaan ini akan menampilkan fitur serba bisa. Sebagai contoh, Amazon “pengecer diskon.” Juga merupakan platform pemasaran, jaringan pengiriman dan logistik. Penyedia layanan pembayaran, pemberi pinjaman kredit, rumah lelang dan penerbit.

Atau,Facebook yang tidak hanya melakukan sosial media. Mereka masih mencoba memasuki bidang yang hanya negara berdaulat yang berhak melakukannya. Mengeluarkan mata uang Digital Libra.

“Monopoli yang terlalu terpusatkan dan berlebihan akan menjadi iblis.” Teknologi baru adalah melepaskan iblis keluar dari kotak Pandora. Apakah iblis akan berbuat jahat atau tidak, atau bagaimana mengaturnya, itu tergantung pada kebijaksanaan manusia.

Just like grandma says, untuk menghadapi tantangan Rantai Pasokan Global, kita perlu mempromosikan aliran tenaga kerja sepenuhnya. Kedua, membangun lingkungan pasar yang kompetitif dan mengawasi perilaku perusahaan Raksasa. Ketiga, tingkatkan tingkat keterbukaan suatu negara.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Rantai Pasokan GlobalTags: , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: