Terobosan terbaru kecerdasan buatan

Terobosan terbaru kecerdasan buatan OpenAI bernama GPT-3 oleh pendiri Tesla dan SpaceX Elon Musk, Presiden Y Combinator Sam Altman, Angel Investor Peter Thiel, dan raksasa Silicon Valley lainnya telah menjadi pembahasan terpanas dikalangan AI dunia. Arthur Clarke, Novelis fiksi ilmiah terkenal memiliki pepatah terkenal, “Setiap teknologi yang cukup maju tidak dapat dibedakan dari sihir.”

Ini memang suatu kebenaran. Untuk memahami industri teknologi, Anda harus belajar membedakan mana yang benar-benar teknologi yang cukup maju, mana yang sekedar sihir, dan mana yang bukan teknologi canggih tetapi digertak sebagai sihir.

Misalnya di Tiongkok, yang sebagian besar masyarakatnya kurang tahu tentang industri teknologi, tetapi memiliki ekspektasi yang besar. Hal-hal yang membingungkan tentang teknologi dan keajaiban sering terjadi dalam kehidupan.

Terobosan terbaru kecerdasan buatan

Alat pembuat bahasa alami baru OpenAI, bernama GPT-3 menjadi topik terhangat selain masalah “kawin paksa TikTok dengan Microsoft” oleh Presiden Donald Trump.

GPT adalah singkatan dari “Generated pre-trained Transformer”. Artinya, ketika Anda menggunakan bahasa alami untuk berkomunikasi dengannya, GPT mengubahnya menjadi bahasa yang dipahami mesin. Kemudian diproses, dan mengubah hasilnya menjadi bahasa manusia.  

Karena khawatir kecerdasan buatan dapat menjadi ancaman terbesar bagi umat manusia, maka para pendiri OpenAI berkomitmen menginvestasikan 1 miliar dolar AS untuk mendirikan organisasi nirlaba kecerdasan buatan ini.

Mereka berharap dapat mengembangkan sistem kecerdasan buatan umum yang aman dan terbuka untuk umum. Microsoft Corporation, pendiri LinkedIn Reid Hoffman dan dana modal ventura terkenal Khosla Ventures juga turut berinvestasi di dalamnya. Diantaranya, Microsoft menginvestasikan 1 miliar Dolar secara tersendiri.

Para pendiri mengumumkan tujuan jangka pendek Organisasi ini di tahun 2016. Tujuannya untuk membuat chatbot yang menggunakan bahasa alami. Sehingga robot dapat melakukan pekerjaan rumah dasar. Pada Awal tahun 2019, mereka membuat versi GPT-2. Namun sayangnya tidak dirilis, sehingga tidak banyak laporan mengenainya.

Sebenarnya, versi GPT-2 sudah sangat hebat. Anda hanya perlu menulis setengah kalimat, GPT-2 dapat membantu Anda menyelesaikan semua kalimat. Atau, Meskipun Anda hanya melukis setengah gambar, GPT-2 dapat membantu Anda menyelesaikan semuanya.  

Sekitar akhir Juli yang lalu, GPT-3 yang jauh lebih canggih mulai merekrut pengguna uji coba gelombang pertama dikalangan publik. Anda hanya perlu memberi tahunya maksud Anda menulis sebuah artikel. Memberinya beberapa kata kunci. GPT-3 dapat menyelesaikan seluruh artikel. Dia dapat menulis novel, berita, dokumen bisnis, dan bahkan suatu program.

Atau Misalnya, Anda cukup memberi tahu dia dalam bahasa natural bahwa Anda menginginkan halaman seperti Google, dan dia akan mendesain halaman persis permintaan Anda. Bahkan, beserta kode programnya. Sangat Luar biasa.

Setelah membaca artikel yang dibuat oleh GPT-3, banyak orang mengklaim sulit dipercaya bahwa itu tidak ditulis oleh manusia. Sebuah Perusahaan penguji aplikasi yang terkenal bahkan meluncurkan tantangan, mengundang pemrogram terbaik Dunia bertarung dengan GPT-3. Untuk melihat siapa yang dapat merancang situs web lebih baik.

Jadi, dimasa depan kita tidak perlu menulis sendiri. Kita tinggal Pesan sama Terobosan terbaru kecerdasan buatan GPT-3 ini. Kita bahkan dapat menggunakan GPT-3 untuk mengontrol robot dan berbagai peralatan listrik di rumah. Hal ini Tidak jauh dari realisasi.

Tentu saja, hal ini juga menimbulkan kepanikan kebanyakan orang. Tampaknya sebagian besar pekerjaan manusia akan digantikan oleh kecerdasan buatan. Manusia berubah menjadi orang-orang yang tidak berguna seperti yang dikatakan dalam “Sapiens: A brief history of human Mankind.” Sebenarnya, niat awal Elon Musk adalah membantu manusia memecahkan ancaman kecerdasan buatan. Tetapi sebaliknya, hasilnya membuat semua orang merasa terancam.

Sebenarnya, kita khawatir pada tempat yang salah. Pertama-tama, teknologi ini masih berupa kecerdasan buatan. Itu hanya mengingatkan kita bahwa di mata mesin, semua jenis kata, program, musik, dan lukisan sebenarnya hanyalah suatu bahasa. Sederhananya, ini adalah mode interaksi informasi.

Sama seperti AlphaGo yang telah menemukan model yang dapat mengalahkan pecatur Go Lee Sedol. Kini GPT-3 telah menemukan model bahasa yang dapat berinteraksi secara efektif dengan kita. Kecerdasan manusia yang paling kuat adalah interaksi berdasarkan sejumlah besar informasi yang lebih efisien.

Meskipun GPT-3 telah memiliki banyak sekali latar belakang, namun masih jauh dari kecerdasan manusia. Misalnya manusia tahu sensitif dan menghindari rasis, tetapi GPT-3 tidak. Apalagi, jika informasinya asimetris, orang-orang mudah salah paham. Contohnya  konflik AS-China saat ini. GPT-3 malah lebih parah.

Itulah sebabnya, Majalah MIT Technology Review mengatakan bahwa GPT-3 sangat hebat, namun tidak memiliki otak sama sekali.

Tapi ini bukan yang terpenting. Meskipun GPT-3 bukanlah revolusi teknologi, dia hanya merupakan terobosan terbaru kecerdasan buatan dalam aplikasi. Yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kegunaan AI.

Dua puluh tahun yang lalu, Silicon Valley memiliki teori: “Teknologi canggih sering kali sulit digunakan.” Akan tetapi, Ini bukan masalah bagi 10%-15% pengguna pasar yang ingin mencoba hal-hal baru. Namun, Mereka sulit diterima oleh orang biasa. Ketika produk teknologi masuk ke pasar, pada dasarnya akan menemui celah hambatan. Di mana sebagian kecil orang bertepuk tangan menyambut baik, tetapi kebanyakan orang masih acuh tak acuh.

Kecerdasan buatan saat ini berada pada tahap semua orang memperbincangkannya, tetapi kebanyakan orang tidak akan menggunakannya. Kecuali penggunaan pasif pemrosesan foto ponsel. 

GPT-3 oleh OpenAI

Menurut teori ekonom Carlota Perez, revolusi teknologi pada umumnya dibagi menjadi dua tahap, periode pengenalan dan periode ekspansi. Dewasa ini, Kita sedang memasuki  periode Ekspansi. Yang umumnya dikenal sebagai paruh kedua. Inti dari revolusi industri adalah replikasi produk secara besar-besaran. Sedangkan inti dari revolusi informasi adalah replikasi skala besar pengalaman manusia.

Paruh kedua dari revolusi informasi adalah menggunakan kemampuan replikasi pengalaman cerdas ini untuk mewujudkan penyediaan skala layanan high-end yang dipersonalisasi. Dengan kata lain, di masa depan, setiap orang biasa akan memiliki pelayan yang komprehensif dan cerdas, serta pelayan yang penuh keterampilan untuk layanan pribadi.

Terobosan terbaru kecerdasan buatan
Terobosan terbaru kecerdasan buatan OpenAI bernama GPT-3 (IMAGE:MIT)

Ini adalah peluang besar berikutnya. Peluang yang cukup besar untuk melahirkan banyak perusahaan raksasa baru. Suatu medan pertempuran utama bagi para Wirausahawan di tahap berikutnya. Persaingan korporat ibarat medan pertempuran. Dan teknologi adalah senjata para pengusaha.

Just like grandma says, Sekarang, persaingan untuk layanan kelas atas akan segera dimulai. Senjata interaksi pribadi telah muncul. Pengusaha sukses di masa depan adalah pengusaha yang dapat dengan cepat melengkapi senjata paling canggih untuk pasukannya. Termasuk memainkan peranan senjata canggih di medan perang dengan strategi baru.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.