Advertisements

Tidak ada China berikutnya

Tidak ada China berikutnya menurut saya. Itulah pengamatan saya terhadap negeri Tirai Bambu ini selama 20 tahun terakhir. Dari negara termiskin dan terbelakang sampai tinggal landas menjadi negara perekenomian kedua terbesar di dunia. Perkembangan yang sangat menakjubkan. Tidak ada contoh serupa dalam sejarah perkembangan manusia sebelumnya. Bahkan AS sebagai Negara Adidaya membutuhkan waktu ratusan tahun untuk membangun kekuatan seperti yang kita lihat hari ini.

Kesuksesan China dalam membangun negaranya sudah mendapat pengakuan di mata dunia. Bagaimana pemerintah pusat Beijing membawa penduduk sebanyak 800 juta jiwa keluar dari garis kemiskinan.

Tidak ada China berikutnya

Banyak perusahaan raksasa internasional telah mulai menata letak di negara-negara berkembang dengan penduduk berskala besar seperti India, Brasil atau Vietnam beberapa tahun terakhir. Mereka menganggap bahwa keberhasilan China bisa di copas ke negara-negara ini. Mereka memiliki potensi sangat besar untuk menjadi China berikutnya.  

Namun, berdasarkan perbandingan perkembangan negara-negara maju seperti AS dan Uni Eropa, dan pengalaman saya di pasar Internasional selama puluhan tahun, sulit atau mungkin Tidak ada China berikutnya.

Sebagai perekonomian dan militer terkuat di dunia, Baik China maupun Amerika Serikat adalah dua negara dengan “Tingkat Sistem Operasi”. Sementara negara lain hanya berada dalam tahap “Tingkat Aplikasi”.  

Mungkin Hanya China dan Amerika Serikat yang memiliki standar industri tersendiri. Memiliki mesin pencari atau searching engine tersendiri. Memiliki jaringan sosial tersendiri. Memiliki platform E-commerce tersendiri. Ataupun, Sistem Operasi AI atau kecerdasan buatan tersendiri.

Misalnya negara penduduk kedua terbesar dunia, India. India menggunakan bahasa Inggris. Semua kelas menengah di India, secara alami menggunakan layanan Amerika. Secara otomatis banyak terkait dengan Amerika Serikat. Sebagian besar talenta terbaik India juga bekerja di Amerika Serikat atau perusahaan AS.  

Atau misalnya lagi, banyak kota besar di China yang juga berniat menjadi Kota Tingkat Pertama, atau istilahnya “First Tier City” seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou atau Shenzhen. Namun, kenyataannya hal tersebut sulit tercapai. Kebanyakan talenta akhirnya harus meninggalkan tempat kelahiran mereka dan pergi ke kota tingkat pertama ini.

“Bilamana suatu negara tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan talenta atau SDM nya, Negara ini tidak akan bisa menjadi negara “Tingkat Sistem Operasi” atau operator berikutnya.”

Paling-paling hanya merupakan suatu “Aplikasi” biasa saja. Sebagai contohnya, Israel adalah pasar tingkat Aplikasi. Yang berfokus pada inovasi tingkat aplikasi antara pasar AS dan pasar China. Walaupun, banyak Media Internasional percaya bahwa banyak negara di dunia memiliki potensi untuk menjadi China berikutnya.  

Banyak Fakta menunjukkan, Pendapatan Domestik Bruto atau GDP negara-negara di dunia kurang mampu mempertahankan pertumbuhan Ekonomi tinggi untuk waktu yang lama. Namun, sebaliknya PDB per kapita China masih akan terus bertumbuh dengan cepat dalam beberapa dekade mendatang. Menjadikan China Sebagai negara konsumsi terbesar di dunia menggantikan AS.

Di masa depan, kebanyakan Perusahaan kelas dunia masih akan terlahir di China dan Amerika Serikat. Karena Dunia sepenuhnya bergantung pada pasar China dan Amerika Serikat sebagai penggerak Utama Ekonomi Global.  

Sebaliknya, jika suatu perusahaan China tidak memiliki kapasitas dan kemampuan skala globalisasi, perusahaan ini juga akan runtuh dan dibanting oleh perusahaan-perusahaan lainnya di luar China dalam hitungan menit.  

Sehingga, perusahaan Domestik yang melakukan Bisnis di China sendiri, tidak akan hanya berbisnis di provinsi Guangdong saja. Mereka juga akan ekspansi ke provinsi Zhejiang, Sichuan atau Hunan. Dan, tentu saja kepasaran Global juga.

China Speed

Mungkin Dalam jangka waktu yang sangat panjang di kemudian hari, skala pasar internasional secara keseluruhan akan menyusut. Apalagi kalau operasional suatu negara dipisahkan, skala pasar hanya akan menjadi semakin kecil.  

Umpamanya kita ambil analogi yang agak berlebihan. Mungkin, seluruh pasar Jepang cuma sebesar provinsi Zhejiang. Seluruh pasar Asia Tenggara hanya sebesar provinsi Guangdong. Ataupun, seluruh pasar India mungkin hanya seskala provinsi Fujian.

Tidak ada China berikutnya
Tidak ada China berikutnya dalam 100 tahun mendatang

Oleh karena itu, kemampuan menyatukan pasar menjadi satu pasar sangatlah penting. Seperti perusahaan Amerika di Lembah Silikon, perusahaan seperti ini akan bisa kompetitif di masa depan.

Just like grandma says, dari negara yang meniru teknologi AS, menjadi negara paling kuat dalam Aplikasi Artificial Intelligence dan Jaringan 5G, kereta cepat dari 350km/jam menjadi 600km/jam, “China Speed” telah menjadi kartu nama China. Super Fast Komputer dengan Triliunan kecepatan perhitungan “Tianhe No.1”, perhitungan 1 jamnya setara dengan total 1,4Miliar penduduk melakukan perhitungan secara bersamaan memerlukan waktu lebih dari 340 tahun keatas. Ataupun, komersialisasi 5G yang dapat mengunduh satu film dalam waktu 1-3 detik.

Atau Saat ini di China, dalam 1 jam dapat menciptakan produk domestik bruto lebih dari 10 Miliar Yuan. Atau menghasilkan 150 juta kg beras. Atau membangun kereta cepat sepanjang 500meter. Atau menangani 6 juta unit pengiriman ekspres. Atau bahkan barang merchandising perdagangan sebesar 500 juta dolar. Inilah kecepatan China yang sulit ditandingi. Itulah mengapa, Tidak ada China berikutnya dalam 100 tahun mendatang.

Advertisements
Categories: Tidak ada China berikutnya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: