Tidak ada perusahaan yang terlalu besar untuk gagal

Tidak ada perusahaan yang terlalu besar untuk gagal seperti Yahoo. Yahoo, nama yang sudah tidak asing bagi kita semua. Lebih-lebih bagi orang jaman now yang kehidupan sehari-hari tidak bisa terlepas dari internet. Dan Lebih-lebih bagi netizen awal Di tahun 1990an.

Yahoo, adalah pusat gravitasi di masa awal bisnis internet merebak di akhir abad20. Berkat Yahoo, kita bisa berkomunikasi lewat email. Chat room. Membaca berita terbaru. Ataupun memakai searching engine. Perusahaan yang didirikan Jerry Yang ini, asal Taiwan China, merupakan salah satu katalis terbesar .com booming atau internet bubble di tahun 90an.

Karena salah langkah dan kebijakan dari pemimpin, menyebabkan Yahoo harus di akuisisi di tahun 2017 dengan harga Usd 4.48M kepada perusahaan telekomunikasi AS Verizon. Dan bergabung dengan anak perusahaannya American Online (AOL). Harga ini sangat jauh dari valuasinya di masa Golden Age, senilai lebih dari usd100M.

Tidak ada perusahaan yang terlalu besar untuk gagal

Keruntuhan Yahoo sebenarnya hanya menegaskan tanda sekarat yang sudah muncul lama. Protagonis kita hari ini bukan Yahoo. Melainkan Facebook. Sosmed yang kita pakai setiap hari di Indonesia.

Apakah Facebook akan menjadi Yahoo berikutnya???

Mungkin kurang adil atau kurang tepat kalau Facebook disamakan dengan Yahoo. Tetapi diantara mereka berdua muncul gejala serupa. Seperti gempa berkali-kali dengan staf executive management di Facebook. Sebelum mantan CEO Yahoo, Marissa Meyer ex Google menjabat, Yahoo telah menggantikan 4 eksekutif chairman dalam 3 tahun.

Banyak eksekutif yang meninggalkan Facebook tahun ini. Termasuk pendiri Instagram, pendiri VR Oculus, maupun co-founder Whatsapp. Banyaknya berita negative yang mengarah ke semangat rendah atas semua pegawai Facebook.

Sejak tahun 2018, Facebook telah jatuh dalam laporan negative dan kontroversi. Misalnya, dia tidak melakukan segala kemungkinan untuk mencegah Rusia mencampur tangan pemilu AS di tahun 2016, yang menyebabkan Donald Trump terpilih sebagai presiden. Paling tidak ini klaim dari lawannya.

Yang lebih parahnya lagi, Facebook menjual data pribadi dari 50 juta pengguna ke perusahaan konsultan dari Inggris tanpa persetujuan pengguna. Inilah penyebab karyawan-karyawan terhebat memilih untuk meninggalkan Facebook. Ke perusahaan yang tidak begitu banyak kontroversialnya.

Disamping itu, banyak ketidakpuasan dari karyawan-karyawan dengan prestasi menonjol. Karena Facebook membayar gaji tinggi kepada karyawan biasa yang kurang berprestasi ataupun kontribusi. Facebook melakukan ini Hanya untuk mempertahankan mereka untuk tidak meninggalkan Facebook.

Selain permasalahan diatas, Facebook juga menghadapi Dua tantangan besar. Misalnya saya sendiri lebih memilih social media yang lebih jarang iklannya. Facebook memiliki instagram, dan Whatsapp. Tetapi kalau dibandingkan dengan dua tahun yang lalu, 18% orang dewasa diatas 18 tahun telah berkurang sebesar 31% di jejaring social inti Facebook.

Orang sekarang lebih menyukai fitur seperti cerita. Dimana pengguna memakai serangkaian foto dan video untuk merekam pengalaman sehari-hari. Dan tentu saja, pengguna memilih sosmed yang lebih sedikit iklan dalam kisah pribadi mereka. Tetapi sayangnya, Facebook menyalin fitur ini ke Instagram dan platform sosialnya sendiri.

Tantangan lain seperti ketidakpuasan dari industry pemasaran. Misalnya dari interaksi antara pengguna dan iklan. Karena Efek pemasaran Facebook tidak sebaik sebelumnya. Facebook menyesatkan pelanggan dengan jumlah total pemakai yang tidak tepat.

Menurut Pivotal Research, perusahaan unicorn data besar di New York, Facebook menjanjikan para pengiklan bahwa mereka dapat menjangkau lebih banyak pengguna antara usia 18 sampai 34 tahun di AS. Tetapi kenyataannya tidak seperti ini.

Tidak ada perusahaan yang terlalu besar untuk gagal
Too Big to fail (Image:Linux Beach)

Just like grandma says, Dunia tengah berubah. Minat dan kebiasaan pengguna juga ikut berubah. Kita mungkin tengah menyaksikan perusahaan teknologi paling inovatif pada masanya harus mati. Hanya karena gagal berinovasi lagi. Hanya karena lengah. Ataupun menganggap dunia ini statis. Dunia telah berubah. Dan Facebook tampaknya tidak.

Di dunia ini tidak ada yang abadi. Tidak ada perusahaan yang “terlalu besar untuk gagal” atau Too Big to Fail. Setiap pengusaha harus menyadari bahwa gunung es sedang mencair. Dan era krisis senantiasa muncul. Orang yang senantiasa penuh dengan rasa krisis baru bisa menerobos dan bertumbuh. Apalagi kita lagi memasuki jaman AI.

“There is no such thing as too big to fail in this world. It is not the strongest of the species that survives, Nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change—Charles Darwin.”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.