TikTok jangan menyerah terhadap ancaman Trump

TikTok jangan menyerah terhadap ancaman Trump, begitu permintaan dan seruan para pengguna dari berbagai bangsa. TikTok, anak perusahaan Bytedance asal Negeri Tirai bambu yang sangat sukses dan mendominasi tingkat download No. 1 di Market place Appstore ios maupun Android. TikTok berhasil menggeserkan Facebook maupun Youtube di seluruh dunia. TikTok, aplikasi video pendek telah memenangkan hati pengguna berusia muda di mana-mana. TikTok telah menjadi korban akibat Amerika Serikat yang telah kalah bersaing dengan Teknologi China.

“Ketika Donald Trump (AS) kalah bersaing denganMu, maka mereka (AS) akan merampokMu, “begitu komentar para pakar ekonomi berbagai negara seperti Perancis dan Jepang. Beberapa dekade yang lalu, peristiwa serupa juga terjadi pada Toshiba dan Alstom. Mereka akhirnya, dipaksa jual kepada perusahaan Amerika.

TikTok jangan menyerah terhadap ancaman Trump

Pada tanggal 4 Juni yang lalu, Kevin Mayer mantan Head of Streaming dari Disney direkrut oleh Zhang Yi Ming untuk menjabat CEO, sekalian merangkap COO Internasional TikTok di luar China. Pertanyaannya sekarang, dengan latar belakang yang cukup bagus apakah Kevin Mayer dapat membalikkan situasi TikTok di saat krisis saat ini ?  

Berikut adalah kutipan beberapa saran petunjuk dari Mentor Ricky, namanya Mr. Wang. Mr. Wang menganjurkan beberapa saran mengapa TikTok jangan menyerah terhadap ancaman Trump. Beliau adalah pakar Teknologi dan investor asal Tiongkok yang sangat memahami teknologi maupun UU peraturan di Negeri Paman Sam.

Kevin Mayer walaupun sangat berhasil dan berbakat dalam bisnis di Disney, namun menurut Mr. Wang tidak dapat sepenuhnya memecahkan masalah TikTok. Yang TikTok perlukan adalah memperkuat Hubungan Relasi dengan pemerintah Amerika Serikat. Kalau tidak, TikTok hanya akan dijadikan “sasaran serangan.”

Tanpa Di luar dugaan, TikTok telah menjadi sasaran serangan Donald Trump belum lama ini. Hanya karena TikTok adalah perusahaan Teknologi asal China. Dengan alasan keamanan negara, Pertama-tama, Donald Trump melarang semua orang pemerintahan AS menggunakan TikTok. Kemudian, melarang TikTok untuk beroperasi di AS. Atau, TikTok harus dijual ke perusahaan AS bila ingin terus melakukan bisnis di AS.

Untuk mempertahankan bisnisnya di AS, Boss Besar TikTok Zhang Yiming terpaksa menggigit jari memindahkan bisnis internasionalnya ke Amerika Serikat. TikTok di paksa untuk Setuju Terbuka kepada semua Program Peninjauan pemerintah AS. Termasuk dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan pengambilan keputusan. TikTok mungkin hanya diperbolehkan mempertahankan beberapa persen Hak ekuitasnya.

Trump terus mendesak TikTok. Bila Tiktok tidak diakuisisi oleh perusahaan Amerika Serikat, maka TikTok harus keluar dari AS. Sebaliknya, bila TikTok berhasil diakuisisi oleh perusahaan AS seperti Microsoft, pemerintah AS harus mendapatkan komisi atas penjualan TikTok. Alasannya sangat sederhana. Karena Trump yang memungkinkan terjadinya transaksi ini. 

Di dalam lingkaran teman-teman Wechat dan Tiktok, bermunculan banyak komentar berkaitan cara brutal Trump. Ada yang mengutuk Trump, dan kedua, ada yang mempermasalahkan mana yang lebih menguntungkan, di akuisisi oleh Microsoft? Atau perusahaan internet lainnya? Seperti Netflix atau Twitter?

Gaya kepemimpinan Trump terus menerus menembus garis dasar moral. Tetapi Trump tidak berani menyentuh garis dasar Hukum. Sehingga, Trump hanya berani memblokir dengan kekuasaan eksekutif presidennya. Sebaliknya, apakah TikTok benar-benar hanya dapat disembelih begitu saja?

Sebenarnya, Kalau diakuisisi, apalagi TikTok yang masih di bawah usia dewasa, jual beli paksa semacam ini ditakdirkan mustahil untuk dijual dengan harga yang pantas. Itulah sebabnya, banyak seruan TikTok jangan menyerah terhadap ancaman Trump. TikTok tidak boleh di jual sama sekali. Melainkan, harus ditolak dengan tegas. Ada UU di Amerika Serikat namanya, “Stand your ground”.

“Artinya, Ketika orang lain menindas Anda, Anda dapat dengan tegas menolak untuk menyerah. Bahkan jika penolakan Anda menyebabkan kerugian atau bahkan kematian bagi pihak lain, tidak ada tanggung jawab hukum bagi Anda. “

Sejarah nasional tersebut dibentuk oleh Para imigran Amerika ketika mereka dalam Masa kesulitan. Mereka berhasil menciptakan budaya menghargai diri sendiri, berjuang dan membela kepentingan mereka sendiri di Amerika Serikat. Ketika kepentingan Anda dilanggar, bila Anda tidak berdiri dan melawan, orang lain tidak akan memuji toleransi Anda.

Sebaliknya, Mereka akan menganggap Anda pengecut. Namun, ketika Anda berinisiatif untuk membela kepentingan sendiri, orang lain tidak akan menganggap Anda agresif. Melainkan, akan memberi cap jempol atas keberanian Anda.

Anda mungkin bertanya, itu kan negara orang lain, apa dasar perjuangan TikTok?

Dasar perjuangan terkuat TikTok adalah 165 juta pengguna yang menyukai TikTok di AS. Meskipun kebanyakan mereka adalah kaum muda berusia antara 16 dan 24 tahun, namun mereka telah dapat berpartisipasi dalam Pilpres pada usia 18 tahun di Amerika Serikat. Disamping itu,  ada semakin banyak orang dewasa yang mulai menggunakan TikTok.

Dengan Demikian, sangatlah beresiko bagi Trump untuk menutup TikTok. Perlu diketahui, membuat geram banyak orang saat mendekati Pilpres ditambah dukungan Trump yang semakin berkurang, mungkin bukan keputusan yang bijak bagi Tim kepresidenan Donald Trump.

Apalagi, kenyataannya sekarang telah ada banyak seruan untuk “Save TikTok”.

Walaupun sebagian besar pengguna TikTok adalah anak muda, tapi mobilitas mereka tidak bisa diremehkan. Ketika Trump pertama kali mengadakan Reli kampanye, mereka berhasil digagalkan oleh pengguna TikTok. Seandainya, para pengguna muda ini memobilisasi untuk tampil dan menentang Trump, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya terhadap Trump. Siapa bilang suara muda tidak bisa mengubah sejarah ? 

Bagi kancah politik Amerika yang selalu waspada terhadap campur tangan asing dalam pemilu, sangatlah penting untuk memahami situasi tersebut. Pendiri TikTok, Zhang Yiming bukan ikut campur dalam pemilu, melainkan berusaha mendengarkan suara pengguna Amerika yang telah berskala besar. Berusaha memahami situasi mereka dan membuat pilihan. 

TikTok mungkin bisa menggunakan Algoritma, teknologi kejagoan mereka untuk merekomendasi apa yang ditampilkan kepada pengguna. Karena algoritma justru hal yang paling ditakuti Trump. Saat ini cara yang paling lugas mungkin adalah yang paling cocok. Karena TikTok memperjuangkan kepentingannya sendiri. Berhubung apakah TikTok dapat berkelanjutan di AS yang juga melibatkan kepentingan setiap pengguna TikTok.

Selain itu, TikTok sebenarnya bisa menampilkan pengumuman dihalaman depan pada saat pengguna memasuki Aplikasi TikTok. Deskripsi teks memberi tahu semua orang tentang situasi berat saat ini dan mencari dukungan. Namun sebelum melangkah sebesar itu, TikTok perlu  melakukan persiapan yang matang terlebih dahulu.

TikTok harus menyatakan dengan jelas bahwa saham TikTok di perusahaan adalah hak milik TikTok sendiri. TikTok tidak bisa dipaksa untuk dijual. Memperjuangkan kepentingan  sendiri adalah suatu hal yang wajar. Tidak perlu ditutup-tutupi.

TikTok dapat dengan tegas mengatakan bahwa saham 10% hingga 20% akan dialokasikan untuk karyawan TikTok saat ini dan di masa depan. Dengan demikian, kepentingan TikTok berkaitkan sangat erat dengan setidaknya 1.000 lebih karyawan Amerika Serikat. Menjual paksa TikTok setara dengan Melanggar kepentingan mereka. 

Dengan begitu, Zhang Yiming bisa merelakan Hak pengambilan keputusan dan hak operasi perusahaan kepada Kevin Mayer. Jadi Cara terbaik adalah menerapkan sistem demokrasi di TikTok. Fungsi manajemen dan pengawasan TikTok diimplementasikan oleh perwakilan Pengguna TikTok. Tentu saja, termasuk pengawasan sistem privasi dan metode Rekomendasi. Keputusan terbesar Tiktok dibuat oleh para pengguna TikTok.

Alhasilnya, tidak ada yang akan berani menentang mekanisme demokrasi seperti itu. Karena, itu adalah sistem demokrasi yang justru diperjuangkan orang Amerika sendiri.

Adapun mekanisme implementasi yang lebih spesifik, TikTok dapat mengasih Harga tinggi untuk merekrut Pakar yang sangat dihormati dan terbaik dalam desain sistem di Amerika Serikat. Misalnya, Saluran frekuensi lelang jasa seluler AS yang dirancang oleh para Pakar. Secara otomatis, tidak ada orang yang berani mengatakan bahwa mereka lebih mengerti daripada Pakar?

Sekali lagi, TikTok dapat menekankan bahwa itu adalah “bottom line” mereka. Jika hal ini tidak dapat diterima, dan masih harus di paksa jual maka akan menampar wajah Amerika sendiri. Tentu saja, orang Amerika atau pengguna TikTok pasti tidak setuju. Jika demikian, TikTok tidak akan berkompromi. TikTok dapat memutuskan untuk menutup operasinya di AS. 

TikTok dapat juga meminta pengguna untuk memilih apakah mereka mendukung praktik cara Pendiri TikTok, Zhang Yiming. Yaitu, dengan cara merilis statistik kepada publik.

Tentu saja, TikTok memiliki risiko kegagalan tidak di setujui pemerintah AS. Jika demikian, TikTok terpaksa ditutup saja. Karena itu bukan masalah TikTok melainkan, masalah Trump yang sengaja mempersulit pengguna TikTok AS. Biarkan pengguna AS yang memperjuangkan kepentingan mereka.

Bila cara demikian tidak berhasil, maka kerugian TikTok akan jauh lebih besar daripada menjual perusahaannya.

Akan tetapi bagi Zhang Yiming yang sudah memiliki “Tou Tiao”, platform konten berita dan informasi yang sangat berhasil di China, Reputasi atau Martabat bisnisnya jauh lebih penting. Cara demikian sangat berkemungkinan memperoleh “kompromi” dari Trump. Karena selain menyelamatkan kepentingan Zhang Yi Ming sendiri, juga dapat mempertahankan Bisnis TikTok di AS.

Disamping itu, para pengguna TikTok akan merasa memiliki Hak Otonomi yang lebih besar. Membuat mereka lebih merasa TikTok adalah milik mereka sendiri. 

Apalagi, Publik juga telah banyak melihat bagaimana karakter issue Mark Zuckerberg. Bilamana TikTok bisa menunjukkan kualitas dan karakter yang lebih di hargai orang Amerika, Ricky yakin TikTok pasti bisa menggantikan Facebook menjadi Raja jejaring sosial di dunia. 

Namun, Jika Zhang Yiming bukan tipe pemimpin yang penuh ketekadan, maka masih Ada strategi yang tersedia, yaitu mengirim sinyal “yang penuh ketekadan.” 

TikTok jangan menyerah terhadap ancaman Trump
TikTok jangan menyerah terhadap ancaman Trump (Image: Economic times)

Misalnya, mengumumkan hasil statistik sampel acak 1 juta pengguna TikTok yang menerima komentar surat. Dimana, subteksnya sangat jelas dan tegas bahwa TikTok tidak akan mundur terhadap ancaman Trump. Apalagi, TikTok telah mendapatkan dukungan 1 juta pengguna. Kalau Trump masih bersikeras memaksa TikTok diakuisisi, bisa dipastikan Trump akan mendapatkan perlawanan dan pengaruh negatif terhadap dukungan Pilpresnya nanti. Hal ini tentu akan berada diluar kontrol TikTok.

Just like grandma says, coba bayangkan apakah Trump berani bertaruh mengorbankan kekalahan dalam pemilu memaksakan TikTok tanpa ada pilihan lainnya?

Pokoknya, TikTok jangan menyerah terhadap ancaman Trump seperti seruan mayoritas pengguna TikTok AS. Zhang Yi Ming, jangan menyerah but “Stand Your Ground!”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.