Tolok ukur pendidikan global

Tolok ukur pendidikan global Finlandia menurut OECD melalui Ujian PISA yang dilakukan setiap 3 tahun sekali. Program Penilaian Pelajar Internasional atau sering disebut PISA, adalah studi di seluruh dunia yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) negara anggota dan non-anggota dalam mengevaluasi sistem pendidikan Dunia. Dengan cara mengukur kinerja skolastik siswa sekolah berusia 15 tahun tentang matematika, sains, membaca dan pemecahan masalah.

Ujian Ini pertama kali dilakukan pada tahun 2000 dan kemudian diulang setiap tiga tahun. Tujuannya adalah memberikan data yang dapat dibandingkan bagi negara-negara di dunia dalam meningkatkan kebijakan dan hasil pendidikan mereka. Secara singkat, ujian Ini khusus mengukur pemecahan masalah dan kognisi seorang anak.

Menurut laporan baru-baru ini yang mengatakan bahwa Finlandia secara resmi akan menghapus kurikulum sekolah dasar dan menengah. Hal ini tentu saja segera menjadi hotspot opini publik di media sosial.

Tolok ukur pendidikan global

Anak-anak Finlandia selalu menempati peringkat teratas dalam 4 bidang. Umpamanya membaca, matematika, sains, dan pemecahan masalah seperti ketentuan dalam Tes PISA. Dari tahun 2003 hingga 2012, Finlandia telah menduduki peringkat pertama selama hampir 10 tahun. 

Baru Kemudian, pada tahun 2012 dikalahkan oleh China dengan partisipasi dari kota Shanghai. Sampai hingga pada tes tahun 2018 terakhir, Finlandia telah jatuh menempati peringkat ketujuh Dunia.

Anda mungkin berpikir bahwa peringkat ketujuh bukan lagi ” Tolok ukur pendidikan global “?

Di masa lalu, walaupun Finlandia menduduki skor tertinggi dunia, tetapi jumlah pekerjaan rumah yang dilakukan oleh siswa Finlandia per minggu jauh lebih rendah daripada tingkat rata-rata negara anggota OECD. Pelajar Finlandia hanya menghabiskan rata-rata 3 jam seminggu untuk pekerjaan rumah.

Tetapi tingkat PR rata – rata negara anggota OECD adalah 7 jam. Bahkan, pelajar dari  Shanghai, Tiongkok menggunakan waktu dua kali lipat sebanyak 14 jam mengerjakan PR. Pada dasarnya, murid Finlandia belajar lebih sedikit. Seorang siswa sekolah menengah pertama Finlandia cuma menghabiskan seminggu rata-rata 35 jam untuk belajar.

Mereka Menggunakan waktu 7 jam atau lebih untuk belajar Setiap hari. Tetapi siswa sekolah menengah pertama Shanghai harus menghabiskan 57 jam setiap minggu belajar. Sedangkan, Anak pelajar SMP Singapura menghabiskan 51 jam seminggu.

Baik Guru maupun Orang tua Finlandia tidak akan memberikan pekerjaan rumah tambahan kepada anak-anak mereka. Di Finlandia, sangat sedikit ujian terpadu yang diselenggarakan oleh negara dan sekolah. Pada Umumnya, hanya akan ada ujian terpadu setelah lulus dari sekolah menengah. Sebagian besar guru Finlandia menggunakan metode evaluasi positif seperti dorongan pembelajaran aktif dari siswa sendiri.

Artinya, pendidikan di Finlandia adalah contoh tipikal dari  Pendidikan ” berkualitas tinggi dengan beban ringan ” .

Selain berkualitas tinggi, sistem pendidikan Finlandia juga sangat adil. Hal ini tercermin dalam dua tingkatan. Yaitu pendidikan Finlandia dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas semuanya gratis. Sehingga semua anak mampu bersekolah. Aspek lainnya adalah pendidikan wajib Finlandia ” tidak ada pilihan bagi murid untuk masuk sekolah mana”.

Meskipun ada perbedaan dalam kelas atau latar belakang setiap keluarga, namun orang tua Finlandia pada dasarnya hanya bisa memilih sekolah di depan rumah atau yang paling dekat dengan mereka. Oleh karena itu, ” perbedaan kelas ” dalam pendidikan akan melemah di Finlandia.

Anda pasti akan penasaran mendengarnya, sistem pendidikan seperti itu tidak terdengar seperti sistem yang dapat menghasilkan siswa yang hebat. 

Guru yang tidak ketat, persaingan antar siswa juga tidak terlalu ketat. Seluruh sistem tampaknya sengaja ” de-elitisme “. Bagaimana peringkat sistem pendidikan seperti itu bisa menjadi yang terbaik di antara negara – negara OECD ?

Sebenarnya, bukan pendidikan Finlandia ” tidak tegas “. Mereka hanya tidak ” ketat ” terhadap siswa, tetapi pada guru. Ini merupakan faktor penting dalam menciptakan pendidikan berkualitas tinggi di Finlandia.

Setiap guru Finlandia dipilih dan dilatih secara ketat. Mereka memiliki delapan universitas riset teratas yang memenuhi syarat untuk melatih guru sekolah dasar dan menengah. Jika lulusan SMA ingin menjadi guru di masa depan, ia perlu menjalani dua tahap seleksi intensif. Melalui wawancara dan ujian tertulis. Kemudian masuk ke program sarjana dan magister lima tahun. 

Untuk menjadi guru sekolah dasar, Anda perlu memperoleh gelar master dalam pendidikan. Misalnya, Pada tahun 2019, jumlah pelamar gelar master di Universitas Helsinki sebanyak 8.500 orang, tetapi hanya 700 orang yang diterima. Tingkat penerimaan sekitar 8% .

Setelah mereka diterima, banyak tantangan menyusul dibelakangnya. Setiap Guru tidak hanya harus mempelajari teori pendidikan klasik dan metode pengajaran. Tetapi juga menginvestasikan banyak waktu dalam perencanaan dan desain tujuan, desain proses pembelajaran, kepemimpinan, emosi sosial, dan pengajaran kooperatif, Ilmu kognitif, dll. 

Dalam waktu yang bersamaan, 8 universitas tersebut juga dilengkapi dengan beberapa sekolah dasar yang dapat menyelenggarakan praktek klinik seperti rumah sakit. 

Pengalaman magang dari para calon guru ini akan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun pertama pendaftaran, hanya diperlukan satu minggu magang di sekolah dasar. Tetapi memasuki  tahun kelima, calon guru perlu magang selama delapan minggu keatas.

Meskipun tingkat pendapatan guru Finlandia berada pada tingkat menengah, akan tetapi guru adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat mereka. Semua Orang tua mempercayai guru tanpa syarat. Dengan tim guru yang luar biasa, sehingga sistem pendidikan Finlandia telah menciptakan peluang bagi para guru untuk menunjukkan bakat dan kreativitas mereka.

Sekolah Finlandia hanya memiliki silabus, dan tidak ada bahan pengajaran. Guru mereka memiliki banyak kesempatan untuk menciptakan konten apa dan dalam bentuk apa setiap pengajaran di kelas. Sehingga, guru Finlandia memiliki kemampuan pengembangan dan implementasi kurikulum yang kuat. 

Selain itu, dari perspektif metode pengajaran, sekolah dasar dan menengah Finlandia menerapkan ” sistem kelas kecil ” dengan tidak lebih dari 20 siswa di setiap kelas.

Hal ini membantu para guru dapat memenuhi kebutuhan setiap siswa secara menyeluruh. Pemerintah mereka menghabiskan banyak upaya untuk pelatihan guru. Praktisi di industri pendidikan adalah talenta teratas dan paling dihargai di seluruh masyarakat.

Aspek yang paling menonjol dari pendidikan Finlandia sebagai tolok ukur pendidikan global adalah meskipun sudah menjadi yang terbaik, orang Finlandia selalu memiliki perasaan ” krisis ” yang kuat tentang pendidikan. Rasa krisis ini berasal dari pembelajaran dengan raksasa komunikasi Finlandia sendiri, Nokia.

Pada awal 2009, para sosiolog Finlandia, futuris dan pendidikan bersama-sama mengeluarkan peringatan kepada Kementerian Pendidikan. Mereka memperingatkan untuk selalu waspada terhadap pendidikan Finlandia. Mereka harus Berusaha menjadi seperti Nokia. Para pakar tersebut membandingkan lintasan perkembangan Nokia dan pendidikan Finlandia. Mereka menemukan banyak kesamaan.

Misalnya, garis puncak memasuki visi global dan menjadi sampel inovatif. Semuanya memiliki lereng yang curam. Kemudian, mereka memimpin dan tak tertandingi. Namun, dengan munculnya ponsel pintar Apple, tiba-tiba Nokia terpeleset dan menghilang dari pandangan Dunia. Pakar Finlandia khawatir bahwa pendidikan Finlandia juga akan berhadapan dengan situasi yang sama.

Para pakar berulang kali mengingatkan satu sama lain tentang kata-kata mantan CEO Nokia Jorma Ollila,” Jangan tinggal di kesuksesan masa lalu, namun sebaliknya, harus selalu berfokus ke Arah  Penemuan tren selanjutnya.”

Lantas, di mata orang Finlandia, apa tren pendidikan selanjutnya?

Finlandia membuat analisis yang sangat rinci tentang masalah tersebut. Mereka akhirnya menemukan ” barometer ” baru. Barometer ini menggambarkan 48 tren pendidikan masa depan dengan beberapa poin risiko. Pemerintah membagi tren ini atas tiga bagian. Diantaranya, tren yang pasti akan terjadi di masa depan, tren yang memiliki efek positif dan negatif, dan tren yang tidak pasti saat ini. 

Misalnya, Finlandia menilai bahwa ruang belajar pasti akan mengalami perubahan besar. Teknologi informasilah yang akan membawa perubahan. Baik efek positif maupun negatifnya.

Berdasarkan analisis ini, Finlandia meluncurkan rencana besar reformasi kurikulum sepuluh tahun pada tahun 2016. Secara bertahap mencakup sekolah dasar dan menengah hingga sekolah menengah atas. Rencana ini memuat lima dimensi. Selain isi dan metode kelas, juga mencakup transformasi ruang sekolah, iterasi struktur organisasi, optimalisasi metode evaluasi, dan pengembangan profesionalitas para guru. 

Singkatnya, pada tahun 2026, pendidikan Finlandia akan terlahir kembali dan memiliki tampilan yang berbeda.

Kurikulum sekolah dasar di Helsinki mengadakan pekan belajar fenomena yang berpusat pada ” waktu “. Artinya, selama waktu seminggu, para siswa harus memahami konsep ” waktu ” dari perspektif yang berbeda .

Misalnya, siswa kelas satu dan dua perlu mempelajari tentang pekerjaan pembuat jam Finlandia. Kemudian menggunakan karton untuk membuat jam. Siswa kelas tiga perlu membuat kalender budaya di kelas. Siswa di kelas empat dan lima, dengan bantuan cetak biru desain dan peta memprediksi masa depan suatu kota.

Pendidikan Finlandia berorientasi pada masa depan

Sebelum kelas enam berakhir, para siswa harus pergi ke Inggris untuk “ perjalanan waktu ”. Melalui rancangan rute visual perjalanan selama 8 hari, para siswa dapat belajar  memahami bagaimana waktu memengaruhi kehidupan seseorang.

Dan akhirnya di kelas sembilan, dengan membaca, bereksperimen, Survei dan metode lain mengeksplorasi perubahan garis waktu kegiatan sekolah skala besar.

Dalam keseluruhan proses pembelajaran fenomena, siswa dapat merencanakan proses pembelajarannya sendiri sesuai dengan konten pembelajaran yang berbeda. Dan tentu saja juga berfokus pada mata pelajaran yang berbeda.

Misalnya, jika seorang siswa lebih pandai dalam matematika, maka dia dapat bertanggung jawab untuk deduksi dan statistik dalam proyek. Jika ada siswa yang sangat tertarik dengan seni, mereka bisa memilih sudut seni. Bila ada siswa lain yang ingin belajar keterampilan berkomunikasi, mereka dapat membawa pengalaman interpersonal yang ingin mereka pelajari ke dalam proyek.

Ini adalah contoh dari ” pembelajaran berbasis fenomena “. 

Di balik pembelajaran berbasis fenomena semacam ini adalah penilaian orang Finlandia tentang kemampuan seperti apa yang dibutuhkan siswa untuk beradaptasi dengan dunia masa depan.

Dalam putaran reformasi kurikulum baru, para pakar pendidikan Finlandia telah mengatur ulang tujuh kemampuan berdasarkan perubahan barometer. Tentu saja, Masih termasuk kemampuan belajar tradisional, seperti kemampuan untuk berpikir dan belajar, melek budaya, dan ekspresi interaktif.

Tolok ukur pendidikan global
Tolok ukur pendidikan global (Image: Education in Finland)

Tapi di samping itu, ada perawatan diri, keterampilan hidup sehari-hari, kemampuan digital, semangat kewirausahaan, dan ” partisipasi. Demikian pula,  Kemampuan untuk mempengaruhi dan bertanggung jawab untuk masa depan yang berkelanjutan.

Boleh dikatakan, just like grandma says, reformasi pendidikan yang diterapkan Finlandia adalah reformasi yang sepenuhnya berorientasi pada masa depan.