Tren Pendidikan di Era Digital

Tren Pendidikan di Era Digital telah menjadi kebutuhan mendasar bagi semua kalangan, termasuk guru dan siswa. Untuk mewujudkan kebutuhan tersebut perlu fasilitas penunjang yang memadai seperti pemikiran dan sumber daya manusia yang kompeten.

Pada dasarnya, Semua orang ingin menjadi kaya. Tidak hanya individu atau keluarga saja. Bahkan sebuah negara juga ingin kaya. Hal inilah yang menjadi permasalahan utama di negara berkembang seperti Indonesia. Negara berkembang kalah secara perekonomian dengan negara maju. Alasannya sangat sederhana, karena tidak adanya komoditas atau teknologi yang bisa ditawarkan pada pasar global.

Tren Pendidikan di Era Digital

Sebenarnya, persaingan antar negara di dunia adalah persaingan antara SDM. Persaingan antara organ di atas leher, yaitu kepala atau otak. Telah menjadi hukum alam bahwa sebuah negara tidak bisa mencapai kemakmuran jika tidak ada reformasi sistem pendidikan. Tingkat pendidikan menentukan kualitas dan level pemikiran ataupun pekerjaan seseorang. Sehingga, mereka bisa mendapatkan gaji yang layak untuk membayar pajak kepada negara. Pajak negara kemudian dapat digunakan untuk pengembangan pendidikan.

Pertumbuhan pribadi adalah salah satu bagian dari Pendidikan. Tidak peduli apakah itu anak atau orang tua, atau seseorang yang segera menjadi orangtua, pertumbuhan pribadi sangat  dibutuhkan.

Jadi, pembaruan seperti apa yang perlu dilakukan oleh generasi baru orang tua di dalam Era Digital ini? Atau Apa Tren Pendidikan di Era Digital saat ini?

Pertama, peningkatan konsep pertumbuhan sebagai orang tua.

Kedua, peningkatan sarana untuk memperoleh sumber daya.

Dan ketiga, peningkatan konsumsi pertumbuhan.

Mungkin banyak orangtua ketika melihat bayi mereka pertama kalinya, mereka berpikir, “Selama anaknya sehat dan baik, atau bahagia seumur hidup sudah cukup.” Namun, sejak awal masuk sekolah dasar, semua pemikiran seperti ini telah berubah. Menulis pekerjaan rumah, ekstra kurikulum, berlatih piano, maupun belajar bahasa Inggris atau Mandarin. Garis persaingan awal yang tak terlihat mulai mencekik leher keluarga. Kita mulai melupakan niat awal kita.

Bagi generasi baru orang tua sekarang ini mungkin merupakan dilemma. Karena mereka tidak lagi menganggap nilai dan pendidikan lebih lanjut sebagai tujuan inti dari pendidikan. Dalam kehidupan, apa yang “berguna” sekarang ini mungkin hanya berguna sementara. Tetapi tidak berguna seumur hidup.

Atau sebaliknya, hal-hal yang dianggap kurang berguna, mungkin hanya kurang berguna sementara waktu. Tetapi kenyataannya, sangat berguna seumur hidup.

Tren Pendidikan di Era Digital
Pengembangan diri atau pertumbuhan individu orangtua telah menjadi Tren Pendidikan di Era Digital (Image: marketwatch)

Bagi Orang tua dengan perspektif jangka panjang, mungkin akan membiarkan anak-anaknya membaca buku yang dianggap tidak berguna. Atau melakukan hal-hal yang kurang berguna dan sebagainya. Karena tujuan terpanjang dalam hidup manusia tidak dapat diukur dengan hal-hal yang mereka anggap “tidak berguna”.

Alasan orangtua terjerat dalam dilema karena pandangan mereka tentang pertumbuhan semakin meningkat. Mereka semakin memikirkan lingkungan seperti apa yang seharusnya dimiliki anak pada akhirnya. Semakin banyak keluarga mulai mengenali nilai yang dianggap kurang berguna saat ini. Sehingga, Tren Pendidikan di Era Digital untuk menghilangkan pendidikan utilitarian akan semakin jelas. 

Misalnya, sekarang banyak orang tua akan mengirim anaknya ke kamp musim panas di dalam atau di luar negeri. Menggunakan beberapa minggu untuk belajar mandiri dan bergaul dengan anak-anak lain.

Setiap kali anak mereka kembali dari kamp musim panas atau perkemahan, banyak orang tua melihat perubahan luar biasa. Baik itu kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, atau kemampuan untuk mengekspresikan dan mengendalikan emosi, semuanya menjadi lebih baik.

Mode pendidikan telah berubah di jaman now. Di masa lalu, pendidikan pada dasarnya berbasis sekolah. Ditambah kelas pelajaran di luar sekolah, kelas minat, dan berbagai bahan bacaan ekstrakurikuler. Tetapi sekarang, mengirim anak-anak ke kamp, pergi ke Museum, atau penjelajahan atau kunjungan ke dalam hutan, sebenarnya merupakan pendidikan yang tidak kalah pentingnya.

Seiring meningkatnya sumber daya pendidikan, akses orang tua ke sumber daya pendidikan juga meningkat secara alami. Di masa lalu, para orangtua berusaha keras mencari distrik sekolah dan sekolah yang bagus untuk anak-anaknya. Demi untuk meningkatkan kinerja anak-anak, mereka akan mencari guru yang baik untuk bimbingan belajar di luar sekolah.  

Singkatnya, sekolah bukan lagi satu-satunya cara untuk mendapatkan sumber daya pendidikan. Pelajaran online atau digital adalah jenis pendidikan baru yang lagi tren.

Munculnya digital dan media baru telah memberikan generasi baru orang tua lebih banyak saluran untuk memperoleh sumber daya pendidikan yang lebih komprehensif. Baik untuk pertumbuhan anak atau pembelajaran orang tua sendiri. Hal ini dapat dicapai melalui diversifikasi online dan offline.

Disamping itu, Peningkatan konsep pertumbuhan orang tua generasi baru atau peningkatan sumber daya pendidikan pasti akan mengarah pada peningkatan konsumsi juga. Mereka bersedia mengeluarkan banyak anggaran tahunan untuk memungkinkan anak-anak mereka menerima pendidikan terbaik. Berbicara tentang peningkatan konsumsi, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah setiap orangtua sangat bersedia mengeluarkan uang untuk masa depan anak-anaknya. Memilih ke sekolah yang lebih baik, atau pergi belajar tentang ketrampilan yang untuk sementara tampaknya kurang berguna tetapi sangat berpengaruh di jaman AI.

Setiap orangtua selalu mengharapkan yang terbaik. Mereka bersedia bekerja keras untuk menjadi orang tua terbaik. Tetapi, kebanyakan kita mudah lupa bahwa sebagai orangtua, kita harus menjadi yang terbaik terlebih dahulu. Sehingga, anak-anak dapat melihat pengaruh positif ini.

Oleh karena itu, di Era Digital, pertumbuhan diri orang tua sebenarnya tidak kalah pentingnya. Bahkan ini adalah kekuatan pendorong di belakang pendidikan keluarga. Jadi bukannya sembarang menghabiskan anggaran pendidikan. Melainkan, orangtua perlu memahami dengan jelas siapa atau dalam hal apa anggaran tersebut dibelanjakan.

Just like grandma says, dalam Tren Pendidikan di Era Digital, generasi baru orang tua akan lebih berani menyediakan lebih banyak anggaran untuk yang namanya “pendidikan kurang berguna” bagi anak-anak mereka, dan “pendidikan mandiri” untuk mereka sendiri.  

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: