Advertisements

Uber

11 Mei 2019

Oleh: Ricky Suwarno

Kemarin 10 Mei, perusahaan jaringan transportasi raksasa Uber Technologies Go Publik di Bursa efek New York. Uber, perusahaan yang memberikan layanan antar penumpang, layanan naik kendaraan, pengiriman makanan dan sistem berbagi sepeda. Uber bakalan merupakan perusahaan Go Publik terbesar di tahun 2019. Yang juga dianggap sebagai perusahaan teknologi dengan banyaknya kontroversi atau perdebatan.

Bagaimanapun juga, Uber telah berhasil. Dan dunia tidak dapat mengabaikannya. Uber telah membuktikannya dengan inovasi nyata. Sebelum munculnya Uber, semua perusahaan teknologi internet terobsesi dengan menyediakan layanan online. Tetapi, Uber memulai operasi offline. Menghubungkan orang-orang nyata di offline, dengan mobil-mobil di online.

Sejak saat itu, Uber menjadi kata identik untuk model bisnis semua startup. Dalam periode terpanas di Era berbagi ekonomi, sering terdengar startup bilang mau menjadi sektor tertentunya Uber. Uber dan pendirinya yang penuh ofensif, Travis Kalanick, telah menjadi bintang bersinar di kalangan Silicon Valley dan dunia.

Sebaliknya, “Uber” juga menjadi unicorn yang identik dengan segala macam permasalahan. Untuk meningkatkan pertumbuhannya, Uber menggunakan segala macam cara. Mengabaikan semua aturan yang ada. Budaya diskriminasi terhadap cewek di kantor. Pembakaran uang dalam skala besar, tetapi tanpa profit. Uber telah menjadi sasaran kritik publik. Kalanick juga terpaksa mengundurkan diri sebagai CEO. Dan digantikan oleh Dara Khosrowshahi.

Menurut statistik terbaru dari Uber sendiri, pengguna aktif bulanan sekitar 91 juta. Jumlah supir dalam platform mencapai 3,9 juta. Pada tahun 2018, total pesanan Uber sekitar 49,8 miliar dolar. Pendapatan perusahaan mencapai 11,3 miliar dolar. Laba bersih 1 miliar.

Pada tahun 2017, kerugian bersih perusahaan telah mencapai 4 miliar dolar. Tetapi, pada tahun 2018 Uber menghasilkan 3.2 miliar dolar profit, karena mendivestasi asset dari Rusia dan Asia Tenggara. Pada saat yang sama, ekuitas Uber atas Didi (Ubernya China) menghasilkan pendapatan 2 miliar. Dengan kata lain, dalam hal operasi, Uber masih dalam kondisi kerugian besar.

Uber memegang 15,4% saham atas Didi Teknologi. Dalam prospektusnya Uber, evaluasi Uber untuk Didi sebesar 51,6 miliar dolar. Pemegang saham terbesar Uber, Softbank vision fund memegang 16,3% saham. Mantan CEO, Travis Karanick yang menjadi kontroversial publik memiliki 8,6% saham di perusahaan.

Uber tidak hanya menjadi mobil jaringan pertama didunia, Uber juga telah memberikan layanan berbagi sepeda, dan pengiriman makanan (mencontohi model bisnis seperti Mobike dan Meituan dari China).

Layanan takeaway atau pengiriman makanan Uber, sebagai contoh ekspansi platform dan sinergi. Lebih dari tiga tahun sejak peluncuran layanan take-away, pesanan Uber telah mencapai 2,6 miliar dolar. Menjadikan Uber sebagai platform pengiriman makanan kedua terbesar di luar pasar Cina.

Travis Karanick berharap untuk berdiri di atas panggung bersama ayahnya, ketika Uber mengetok bell (maksudnya Go Publik) di bursa efek New York.

Namun, ditolak oleh penerusnya Dara Khosrowshahi. Alasannya, Uber perlu menjaga jarak dari Karanick. Atas semua citranya yang terlalu negatif. Lagipula, setelah kepemimpinan Khosrowshahi, dan atas segala usaha kerja kerasnya, budaya dan citra Uber berhasil dibangun kembali.

Dalam enam bulan pertama sejak menggantikan Travis Karanick menjadi CEO, Khosrowshahi telah melakukan perjalanan permintaan maaf yang sangat epik di Eropa, Asia maupun Amerika Selatan.

Seperti kutipan New York Post, Kesan yang diberikan Karanick di dunia teknologi adalah orang barbar yang penuh dengan bubuk mesiu seperti Trump.

Sebaliknya, Khosrowshahi adalah lambang pembawa perdamaian. Dia berhasil mengatasi masalah litigasi dengan Alphabet tentang teknologi autopilot atau mobil mandiri Waymo. Mendengarkan keluhan para pengemudi Uber. Serta menyediakan dana bantuan bagi pengemudi taksi yang terpengaruh.

Di masa lalu, ketika lagi mencapai puncaknya dan berada diatas angin, Kalanick saking gilanya pernah mengklaim Uber sebagai perusahaan teknologi berbagi transportasi pribadi adalah “pemenang mengambil segalanya” atau winner takes all. Dia ingin menaklukkan semua lawannya. Akan tetapi, sebaliknya Khosrowshahi dengan lembut mengatakan Uber adalah sebuah permainan yang pemenangnya akan mendapatkan keuntungan terbanyak.

Namun, prospek pendapatan Uber masih suram. Jika tidak menghitung laba dari penjualan aset, Uber masih rugi besar. Di bawah slogan winner takes all, Uber bisa mendapatkan modal ventura yang cukup untuk terus mendukungnya. Tanpa perlu khawatir tentang kerugian. Dan hanya pertimbangkan ekspansi dan ekspansi.

Tetapi setelah Go Publik, Uber perlu membuktikan bahwa mereka lebih seperti Amazon, dimana kerugiannya hanya untuk membangun daya saing jangka panjang. Atau lebih seperti perusahaan teknologi lainnya yang berjuang mati-matian untuk memperoleh profit.

Pertanyaannya sekarang, Ketika Uber go publik, Uber sudah menjadi decacorn raksasa miliaran dolar. Saat ini, tingkat pertumbuhannya telah melambat. Sehingga, pemenang terbesar adalah pemodal awal yang berinvestasi di dalamnya sebelum listing. Ruang profit yang tersisa untuk investor dipasar terbuka mungkin tidak sebesar lagi. Akibatnya, Uber mungkin akan mendapat reaksi dingin di pasar terbuka.

Singkatnya, just like grandma says dengan Go Publiknya perusahaan jaringan transportasi raksasa Uber, akan menjadi peristiwa besar dalam industri teknologi di tahun 2019. Uber memang merupakan startup penting yang telah membuat prestasi besar dalam dekade terakhir. Tetapi juga merupakan perdebatan yang akan selalu menyertainya sesudah go publik.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, UberTags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: