UU perlindungan Data Pribadi

UU perlindungan Data Pribadi dari perusahaan internet raksasa seperti Facebook, Google, Apple, Amazon maupun Alibaba dan Tencent. Pemerintahan setiap negara perlu bekerja sama dan mengawasi secara dekat perusahaan-perusahaan di atas.

Sebelum tahun 2018, perusahaan teknologi seperti, Alibaba, Tencent, Google, Facebook, Apple dll adalah kesayangan dunia dan para investor tentunya. Tentang ambisi mereka mengubah dunia ini. Sambil Menikmati kenyamanan dan keuntungan yang diberikan.

Namun, sejak 2018, perusahaan kesayangan ini mulai dicurigai. Baik itu di Tiongkok maupun di Amerika Serikat.

UU perlindungan Data Pribadi

Belum lama ini, Bill George menulis artikel di Majalah Fortune. Tentang lima masalah yang harus dihadapi mereka. Dan diselesaikan dalam tahun 2019. Bill menegaskan bila tidak ditangani dengan baik, mungkin pemerintah atau masyarakat setempat yang akan menanganinya.

Loh, masalah apa sih bisa serius gitu?

Bill George adalah usahawan yang sangat terkenal. Yah, tetu tidak sepopuler Mark Zuckerberg lah. Bill pernah menjabat ketua dan CEO Medtronic. Sebuah perusahaan perangkat medis. Dia pernah dinobatkan sebagai salah satu manager terbaik oleh majalah Business Week.

Sesudah pensiun, dia terus menjabat sebagai direktur beberapa perusahaan penting. Dan melanjutkan penelitian kepemimpinan dan tata kelola perusahaan di Harvard business school.

Pertama, masalah privasi.

Pada tahun 2018, jejaring media sosial raksasa Facebook di tantang tentang pembocoran privasi dan data pengguna. Setelah proses yang cukup panjang, akhirnya para penegak hukum AS memutuskan Facebook telah mencuri dan menjual data pengguna yang menyebabkan Trump memenangkan pemilihan presiden di tahun 2016. Reaksi berantai ini menyebabkan harga saham facebook anjlok. Termasuk bangkrutnya Cambridge Analytics, perusahaan pembeli data Facebook.

Demikian pula halnya, Google menggunakan browser dan platform Market Place Android untuk mengumpulkan data pengguna di seluruh dunia. Di jaman AI, data pengguna adalah “segalanya.” Data Pengguna atau Big Data diprediksi Jauh lebih berharga daripada minyak Arab Saudi. Ataupun intan berlian dari Afrika.

Dalam hal regulasi, tindakan Uni Eropa adalah yang paling jelas. Pada bulan Mei 2018, mereka meluncurkan UU perlindungan Data Pribadi atau sering disebut GDPR. Tampaknya, pengawasan terhadap internet raksasa akan terus berlanjut di tahun-tahun kemudian.

Kedua, masalah Monopoli.

Hampir semua internet raksasa memiliki platform mereka sendiri. Mereka bisa memainkan efek jaringan dan efek skala. Sehingga pesaing lain akan sulit bersaing dengan mereka.

Dan tentu saja, ini juga menimbulkan kontroversi tentang Monopoli. Pada musim panas 2018, Uni Eropa menganggap Google menyalahgunakan system operasi Android. Google memaksakan persaingan yang kurang adil. Akibatnya, Google di denda oleh UE sebesar USD 5.1 Milyar.

Tentu saja, Segala hal yang pasti pasti ada penyebabnya. “Everything happens for a reason.” Ini sebagai balasan UE atas proteksionisme perdagangan oleh Donald Trump. Pajak impor yang tinggi terhadap semua produk UE.

Pada saat yang sama, Trump juga mempertimbangkan tuntutan hukum Anti Monopoly terhadap Amazon, Google dan Facebook di akhir tahun 2018. Donald Trump juga mengancam kalau perlu, CEO nya bisa dituntut masuk penjara.

Ketiga, Masalah protes dari para karyawan.

Di Amerika Serikat, para karyawan internet raksasa memprotes perusahaannya untuk melakukan perubahan. Umpamanya, di bulan November 2018 yang lalu, lebih dari 20 ribu karyawan Google mogok kerja. Mereka Memprotes pelecehan seksual yang selalu diabaikan oleh manajemen Eksekutif Google.

Di lain pihak, ada serangkaian manajemen eksekutif yang berhenti dari Facebook. Hanya karena tidak setuju dengan budaya perusahaan yang dipraktekkan oleh Mark Zuckerberg.

Talenta adalah inti persaingan suatu perusahaan. Akibatnya, memungkinkan karyawan atau talenta ini bisa memberikan tekanan pada perusahaan untuk mempertimbangkan segala kepentingan perusahaan.

Keempat, masalah kecanduan produk teknologi. Kritikan bahwa raksasa internet menggunakan umpan supaya pengguna lebih banyak menggunakan produk mereka. Atau memancing pengguna mengklik lebih banyak iklan.

Sebagai tanggapan, Tencent harus mengeluarkan serangkaian peraturan. Misalnya, Membatasi pengguna di bawah umur 18 untuk tidak boleh bermain game “Honor of the King.” Atau di Indonesia lebih dikenal sebagai “Mobile Legends.” Mereka tidak boleh mengakses Game diatas jam 8 PM – 10 AM.

Sejak beberapa tahun yang lalu, setiap mobile game developer harus meminta nomor lisensi dari pemerintah China. Sebelum meluncurkan seluler gamenya. Dimana waktu approval untuk lisensi ini mungkin perlu 3-6 bulan.

Raksasa internet lainnya, Apple juga mengirimkan pengingat waktu. Untuk penggunaan layar iPhone atau MacBook.

Jika perusahaan raksasa diatas tidak menanggapi dengan serius, nantinya mereka harus berhadapan dengan pembuat regulasi. Atau, Masyarakat sebagai pengguna.

Kelima, masalah tata kelola.

Masalah Yang paling menonjol adalah Uber. Tesla dan Facebook.

Pendiri dan CEO Uber, Karanic dikeluarkan dari Dewan Direksi.

CEO Tesla, Elon Musk pernah bersumpah di Twitter. Bahkan, pernah menyerang investor, dan mengusulkan privatisasi Tesla. Artinya Tesla menjadi milik individu Musk. Akibatnya, muncul serangkaian masalah dalam internal Tesla. Sampai Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) melarang Musk menjabat sebagai Ketua Dewan perusahaan.

Pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg juga pernah diminta untuk mengundurkan diri di tahun 2018.

UU perlindungan Data Pribadi
UU perlindungan Data Pribadi (Image: Unwire Pro)

Just like grandma says, mungkin perusahaan raksasa ini perlu mendirikan Dewan Direksi yang kuat. Dewan direksi yang tidak hanya berperan sebagai penasehat. Tetapi juga memikul tanggung-jawab tata kelola perusahaan.

Kemudian, mereka juga harus memperkuat kerjasama dengan para pemangku kepentingan. Memanfaatkan berbagai perspektif membangun perusahaan yang lebih stabil. Dan lebih berhasil.