Vid2player Video Sprite Terkendali

Vid2player Video Sprite Terkendali yang tampil seperti pemain profesional tenis. Vid2player, sebuah AI pemain yang dikembangkan oleh Kandidat PhD di Departemen Ilmu Komputer di Universitas Stanford, bernama Haotian Zhang. Pakar Computer Graphics dan Computer Vision. Vid2player dapat menghasilkan pertandingan Tenis realistis.

Tahun 2020 adalah tahun yang tidak biasa. Atas pengaruh wabah virus Corona Covid-19, semua pertemuan dan kompetisi internasional tidak dapat diadakan secara normal. Bahkan Olimpiade Tokyo ditunda hingga 2021. Demikian pula halnya, pertandingan tenis ” Wimbledon “.

Namun, AI mengubah segalanya! Tidak ada hal yang tidak mungkin didepan AI. Ketika mahkota baru virus Corona merajalela didunia, kita masih bisa melihat pertandingan tenis  Roger Federer melawan pemain asal Serbia, Novak Djokovic. Ini semua terealisasikan berkat karena AI. Berkat Vid2player.

Vid2player Video Sprite Terkendali

Mengapa seorang pemain tenis dapat digambarkan dengan begitu jelas dalam sistem ini? Ini berkat sistem pelatihan “sprite”, yang didasarkan pada video aksi langsung pertandingan Federer dengan pemain tenis lainnya sebagai karakter yang tampak realistis. 

Dengan menggunakan video game mereka untuk melatih AI sambil mensimulasikan tindakan mereka saat bermain tenis. Adegan pertandingan yang tampak sangat riil, seolah-olah kita menonton pertandingan tenis siaran langsung di TV.

Selain itu, saat membangun model statistik, para peneliti menggunakan periodisitas tenis untuk memprediksi performa Djokovic dan Federer dalam situasi tertentu. Di dalam pelatihan AI, para tim Stanford ini menggunakan database dengan jepretan beranotasi.

Model ini juga mempertimbangkan strategi tenis umum dan kecenderungan setiap pemain. Misalnya, pemain Serbia Novak Djokovic mempunyai kebiasaan dan suka memukul bola di sisi lemah lawan. Begitu pula, model ini juga mempertimbangkan posisi pemain saat menunggu lawan mengembalikan bola. 

Hal Ini membuat Roger Federer tampak lebih dekat ke garis batas dibanding Rafael Nadal, pemain asal Spanyol. Ini mencerminkan bagaimana mereka berdua bermain di dalam kehidupan nyata.

Fitur-fitur ini memungkinkan Vid2player Video Sprite terkendali membuat skenario hipotetis yang tidak terbatas. Vid2player, juga bisa menciptakan adegan Roger Federer bermain melawan dirinya sendiri, atau Serena Williams. Vid2player bahkan dapat menyimpulkan bagaimana hasil pertandingan akan berbeda, jika bola jatuh di posisi yang berbeda.

Mungkin Anda akan merasa sedih ketika melihat pemain Favorit kalah dalam pertandingan. Namun, dengan munculnya Vid2player dapat mengobati kesedihan Anda dengan memutarbalikkan hasil pertandingan.

Tentu saja, Vid2Player juga dapat memainkan kembali game yang sebenarnya. Berkat fungsi interaktif, pengguna dapat mengubah perkembangan game saat game dimulai. Misalnya, Anda dapat mengubah reaksi pemain saat bola melewati net. Atau gaya bermain pemain secara umum.

Anda juga dapat menentukan apakah akan mengarahkan gawang ke sisi lain lapangan. Atau apakah akan memukul bola dengan backhand atau forehand.

Yang lebih seru lagi, Anda dapat mengontrol posisi memukul dan posisi pemulihan. Sistem AI ini berkemungkinan besar akan diadaptasi menjadi sebuah game dikemudian hari. Tentu saja sistem ini belum sempurna. Meskipun para peneliti berupaya sebaik mungkin untuk menyembunyikan ” kekurangan ” tersebut. Seperti perubahan pencahayaan dan pakaian pemain. Termasuk beberapa fragmen masih terlihat agak kaku.

Vid2player Video Sprite Terkendali
Vid2player Video Sprite Terkendali (Image: Tech Xploer)

Misalnya lagi, Dalam beberapa gambar dan video bahkan terlihat para fans dan pemain tampak tidak bergerak. Beberapa adegan juga terasa agak ” palsu ” karena para pemain dan bola tidak memiliki bayangan. Mereka terlihat seperti ” meluncur ” di atas permukaan lapangan  tenis. Namun secara keseluruhan, Vid2player telah merupakan sistem yang mengesankan.

Just like grandma says, Haotian Zhang Mahasiswa PhD Stanford lulusan dari Universitas Tsinghua menerima gelar sarjana dalam Ilmu Komputer di Beijing. Kemudian, atas saran Profesor Kayvon Fatahalian, dia datang ke Departemen Ilmu Komputer di Universitas Stanford untuk mendapatkan gelar Ph.D.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.