Wajah Baru Dunia Era pasca Epidemi

Wajah Baru Dunia Era pasca Epidemi virus Corona Covid-19 telah menjadi pembahasan Dunia. Selama ini, kita semua telah diserbu dengan ratusan Ton data di internet. Setiap hari ketika kita menghidupkan ponsel, ada banyak berita dari berbagai saluran media. Semuanya tentang situasi epidemi yang lagi melanda seluruh dunia.

Jika kita tidak membacanya, kita mungkin tidak dapat memperoleh informasi terbaru. Namun, jika kita membacanya, itu akan memakan banyak waktu dan energi kita. Rasanya seperti lapar, tapi bukannya makan makanan lezat, justru sebaliknya memakan banyak junk food.

Dalam hal menyaring informasi, Ricky memilih untuk mengikuti beberapa pakar yang terkenal. Mereka adalah sumber informasi saya yang paling terpercaya. Salah satunya, Pakar Ekonom Thomas Friedman, penulis buku The World Is Flat yang menulis kolom di “The New York Times” selalu memposting beberapa komentar setiap minggu atau setiap dua minggu.

Wajah Baru Dunia Era pasca Epidemi

Minggu lalu, Thomas Friedman memposting komentar baru dengan judul yang sangat menarik, “Our New Historical Divide: B.C. and A.C. — the World Before Corona and the World After” artinya, “Batas Sejarah Baru: Masa Pra-epidemi virus Corona dan Masa Epidemi Pasca-Baru”.

Friedman mengatakan bahwa sebelum wabah, dia memiliki banyak rencana seperti menulis buku. Namun, munculnya epidemi virus Corona menyebabkan dia harus mengubah semua rencana semula. Begitu epidemi terjadi, Pola dunia langsung berubah. Kita Mulai memasuki Wajah Baru Dunia Era pasca Epidemi virus Corona.

Menurut pandangan Friedman, wabah ini bisa dibagi atas beberapa tren. Pertama, “efek eksponensial” dalam perkembangan epidemi. Banyak orang mungkin tidak menyadari seberapa cepat epidemi akan menyebar begitu memasuki tahap eksponensial.

Friedman membuat analogi, meskipun kurang sesuai menurut saya. Epidemi itu seperti rentenir dengan tingkat bunga harian, 25%. Jika kita meminjam 1 Dolar dengan bunga 25% setiap hari, Setelah 40 hari kemudian, kita akan berutang 7.500 Dolar. Bila 7.500 Dolar ini di bunga majemukkan atau Compound lagi, setelah tiga minggu, hutang kita telah menjadi 1 juta Dolar. Bayangkan! Inilah yang dimaksud efek eksponensial oleh Friedman.

Hal yang sama berlaku dalam wabah pneumonia ini. Tanpa pengontrolan yang ketat, kalau penularan epidemi pneumonia ini dibiarkan berkembang begitu saja, maka dari 5.000 kasus yang dikonfirmasi akan menjadi 1 juta kasus terinfeksi. Wabah akan terjadi jauh lebih cepat daripada yang bisa dibayangkan.

Pada 23 Maret, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kasus pneumonia virus Corona telah melebihi 300.000 sedunia. 100.000 kasus pertama memakan waktu 67 hari. 100.000 kasus kedua memakan waktu 11 hari. Tetapi 100.000 kasus ketiga hanya memakan waktu 4 hari.  

WHO juga mengeluarkan peringatan kemarin yang mengatakan bahwa pandemi virus Corona akan berkembang semakin cepat. Ini adalah efek eksponensial.

Satu-satunya hal penting sekarang adalah melakukan segala macam cara untuk mengurangi tingkat infeksi. Friedman tidak peduli tentang suku bunga Fed. Dia hanya memperhatikan satu angka, yaitu rasio jumlah pasien yang sakit kritis di Amerika Serikat dengan jumlah ranjang ICU. Jika sistem medis kelebihan beban dan tingkat infeksi terus meningkat secara eksponensial, maka AS akan kalah melawan virus.

Tentu saja, pada kenyataannya ada juga efek indeks positif di bidang medis.Sebagai contoh, kemajuan teknologi komputer dan AI telah merevolusi diagnosis penyakit dan mempercepat pengembangan vaksin di China.

Pertanyaan sekarang, “manakah dari dua fenomena yang didorong oleh Efek eksponensial, penyebaran epidemi atau pengembangan vaksin? yang mana yang lebih cepat?”

Ini adalah masalah perlombaan waktu yang kita semua peduli.

Dalam wabah ini, Friedman mengatakan bahwa hal lain yang baru-baru ini dia perhatikan adalah apakah budaya masyarakat Amerika akan berubah karena wabah. Yaitu, budaya “longgar” menjadi “ketat”.

Negara-negara seperti Singapura termasuk dalam Tight Societies atau Budaya Ketat. Dalam “masyarakat ketat”, pemerintah akan memperkuat perilaku semua warganya melalui tindakan kontrol yang ketat. Alasan Adopsi cara operasi ini karena Singapura telah mengalami banyak kemunduran dan bencana dalam sejarah masa lalu mereka. Misalnya, bencana alam, perang, atau kelaparan.

Dengan kata lain, mereka menggunakan pengalaman pelajaran berdarah sebagai ganti aturan operasi sosial yang sangat ketat.

Sedangkan, negara-negara seperti Amerika Serikat dan Italia memiliki “Masyarakat yang Longgar”. Dibandingkan harus mengikuti aturan, Masyarakat longgar lebih peduli pada kebebasan individu.  

Menurut logika di atas, alasan pembentukan budaya sosial longgar ini karena AS atau Italia jarang mengalami bencana dan ancaman, justru sebaliknya lingkungan hidup mereka yang kelewatan nyaman.

Mengapa kita harus memperhatikan budaya “elastis” sekarang?

Sampai sekarang, “masyarakat ketat” seperti China dan Singapura terbukti lebih efektif dalam merespons epidemi daripada “masyarakat longgar”. Pertanyaannya: Akankah budaya “longgar” di Amerika Serikat berubah di masa depan?

Pandangan Friedman mengingatkan kita untuk memikirkan suatu hal. Setelah epidemi, “Hal apa saja yang akan dihilangkan? Apa yang akan dipertahankan? dan apa yang akan dioptimalkan?? Apa yang bisa kita pelajari dalam wabah ini? Bagaimana bentuk pola dunia sesudah wabah?”

Dari hal Sekecil peralatan kantor dan model pendidikan, sampai hal sebesar hubungan kita dengan orang lain, dengan pemerintah, dengan masyarakat, maupun dengan negara lain. Hal “pengaturan ulang” sedang berlangsung. Seperti apa “Wajah Baru Dunia Era pasca Epidemi?”

Baru-baru ini, Politico, sebuah majalah ulasan politik di Amerika Serikat mewawancarai 34 pemimpin opini. Semua hadirin diminta untuk memprediksi apa perubahan jangka panjang dalam krisis bagi masyarakat. Para pemimpin opini ini berasal dari semua lapisan masyarakat. Termasuk para cendekiawan politik, psikolog, editor majalah, sutradara film, dan sebagainya.

Awalnya, saya tidak begitu mempedulikannya. Karena kita semua tahu bahwa epidemi akan membawa dampak besar pada ekonomi dan lapangan kerja suatu negara. Tetapi setelah mempelajari lebih dalam, membuat saya merasa lebih optimis terhadap pandangan mereka.  Karena banyak ahli ini merasa epidemi virus corona akan menjadi suatu “kalibrasi” dalam masyarakat Amerika, yang dulunya banyak menyesatkan pikiran mereka. Dengan adanya pandemi ini bisa berkesempatan membawa mereka kembali ke track yang benar.

Kesimpulan dari semua ulasan di atas menurut saya cukup menarik untuk diklasifikasikan sebagai berikut:

Pertama, kembalinya Kepercayaan masyarakat kepada para pakar dan profesional. Prediksi ini berasal dari Tom Nicholas, seorang profesor di Akademi Angkatan Laut AS. Beliau mengatakan munculnya epidemi memaksa orang untuk mengakui kembali bahwa “pengetahuan dan keahlian” itu sangat penting.  

Wajah Baru Dunia Era pasca Epidemi
Bagaimana Wajah Baru Dunia Era pasca Epidemi (Image:Stylist)

Sebelumnya, Banyak orang biasa menertawakan para ahli karena ketidak-bergunaan mereka. Namun, setelah terjadinya epidemi saat ini, mereka semua justru ingin tahu apa yang dianjurkan para ahli medis. Misalnya, pakar influencer Amerika bernama Anthony Fitch, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases. Dia berani mengkritik sistem deteksi yang tidak lengkap oleh pemerintah Amerika Serikat, yang telah menyebabkan kepanikan dan diskusi yang tidak seharusnya meluas di media Arus utama.  

Selain itu, Profesor Nicholas juga menekankan kesalahan fatal yang dibuat oleh administrasi Trump selama wabah dapat memberikan kejutan yang cukup dalam bagi publik. Dengan kata lain, ketidaktahuan Trump bisa membuat masyarakat Amerika menyadari bahwa pekerjaan pemerintah dalam menanggulangi wabah juga harus dilakukan oleh para profesional Medis. Bukannya, beberapa penasihat politik.

Kedua, Jenis patriotisme baru. Prediksi ini datang dari Mark Lawrence Schrad, seorang profesor ilmu politik di Universitas Villanova. Dia mengatakan bahwa di masa lalu, “patriotisme” masyarakat Amerika selalu dikaitkan dengan penggunaan kekerasan. Tetapi kali ini bukan tentara yang melayani negara, melainkan para dokter, perawat, apoteker, guru, pengasuh, dan bahkan pemilik usaha kecil maupun Karyawan biasa.  

Ketika epidemi berakhir, orang-orang akan menyadari bahwa pengorbanan yang dilakukan oleh kelompok orang ini barulah patriotisme sejati. Patriotisme tidak harus perang bersenjata menginvasi negara lain seperti yang biasa dilakukan AS, tetapi menyembuhkan melindungi kesehatan dan kehidupan orang-orang di sekitar kita.

Mungkin di masa depan, masyarakat Amerika akan memberikan kelompok ini manfaat khusus yang hanya dapat dinikmati oleh para veteran. Seperti jaminan perlindungan kesehatan, benefit, atau bahkan membentuk patung memori dengan gambar rupa mereka dan menamai festival tertentu berdasarkan identitas mereka.

Ketiga, Kehidupan lingkungan Internet yang lebih sehat. Prediksi tersebut berasal dari Sherry Turkle, seorang profesor sosiologi sains di MIT. Profesor Turkle mengatakan bahwa setelah epidemi, kita mungkin akan memiliki lingkungan Internet yang lebih sehat. Meskipun epidemi telah membuat orang-orang harus mengubah banyak kegiatan offline ke Internet. Bila dibandingkan dengan keadaan tenggelam dalam “gaming” dan bersembunyi di balik identitas virtual, kehidupan online selama epidemi menjadi lebih “nyata”.

Karena banyak orang mengambil Kehidupan offline mereka dan dipindahkan ke online. Misalnya, penduduk Wuhan yang berdiam diri dalam rumah memainkan Adegan latihan olahraga berenang untuk persiapan Pertandingan Musim Dingin Beijing Olympics 2022. Atau, pemain cello terkenal Yo Yo-Ma mengadakan konser langsung di Internet dan memainkan satu lagu setiap hari untuk para netizen. Atau, guru yoga mengajar kelas yoga online secara gratis. Atau, para investor mengadakan roadshow pengusaha online atau VR Show meeting.  

Profesor Turkle percaya bahwa epidemi ini akan membawa kita memikirkan kembali bagaimana kita dapat memberikan lebih banyak Elemen manusia kepada peralatan elektronik yang ada.

Just like grandma says, bagaimana Wajah Baru Dunia Era pasca Epidemi virus Corona, cuma satu kata yang berulang kali muncul dalam pikiran saya, “Evolusi”. Meskipun situasi epidemi bukanlah sesuatu yang ingin kita lihat. Namun, dalam menghadapi epidemi, kita harus menghormati aturan “survival of the fittest” dan memulai evolusi dan iterasi seluruh sistem operasi sosial secepat mungkin. Spesies baru apa yang akan dihasilkan dalam proses ini? Saya rasa ini layak mendapat perhatian jangka panjang kita.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.