Winner dan loser di era kecerdasan buatan

Oleh: Ricky Suwarno

Tidak diragukan, kecerdasan buatan atau AI akan membawa banyak dampak. Positif dan negative. Kecerdasan buatan ini telah bisa menerbangkan drones, mengalahkan pecatur terbaik manusia, menerjemahkan bahasa, mengemudikan mobil, jual beli saham, mengoperasikan pasien, menemukan planet baru, dan sebagainya.

Sehingga, Banyak orang mulai kuatir tentang kedatangan kecerdasan buatan. Lebih-lebih mereka dengan ketrampilan atau pendidikan terbatas. Kekhawatiran yang wajar. Karena masih banyak yang kurang memahaminya. Kedatangan AI ini memang akan membawa keuntungan besar bagi sekelompok orang yang memahaminya. Ataupun menguasainya. Dan sebaliknya, juga ada pecundang. Tergantung pada konten kerja spesifiknya. Karena pada jaman kecerdasan buatan ini, the winner takes it all. Seperti lirik dalam lagu Abba. The winner takes it all. The loser has to fall. It’s simple and it’s plain. Why should I complain.

Dalam kutipan buku “AI Superpower and the New World Order” oleh Kaifu-Lee, tentang kerja kognitif. Yang di bagi atas empat kuadran.

Kerja kognitif ini mengacu pada proses informasi melalui operasi kompleks individu. Dalam menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan. Diantaranya, zona bahaya, zona aman, zona kombinasi dan zona lambat.

Mereka yang bekerja di zona bahaya, seperti pengemudi truk, menghadapi resiko tinggi digantikan dalam waktu dekat.

Dan bagi mereka yang bekerja di area aman, seperti psikolog, atau tukang pijat. Mungkin dalam waktu yang bisa diprediksi tidak mudah digantikan. Sedangkan, batas-batas kerja zona kombinasi dan zona lambat, walaupun dalam waktu dekat tidak bisa digantikan, tetapi dengan reorganisasi tugas kerja atau kemajuan teknologi yang stabil, PHK dalam skala besar untuk pekerjaan tersebut akan terjadi.

Di dalam zona gabungan, mesin atau robot telah dapat melakukan sebagian besar pekerjaan komputasi dan fisik. Tetapi untungnya, pekerjaan seperti itu membutuhkan interaksi social, sehingga sulit sepenuhnya bisa kerja otomatis kalau hanya mengandalkan AI. Makanya, paduan cara yang paling memungkinkan adalah optimasi di belakang layar dikerjakan oleh mesin. Sedangkan, bagian yang perlu berhadapan maupun sosialisai dengan pelanggan dilakukan dengan bantuan manusia. Sehingga terbentuk hubungan simbiotik antara manusia dengan mesin.

Contoh yang sangat klasik adalah satpam, penjaga keamanan. Pembayar pajak. Dan bahkan ahli radiologi. Kecepatan dan proporsi hilangnya pekerjaan ini tergantung pada fleksibilitas upaya perusahaan untuk mengubah pekerjaan karyawannya. Dan seberapa jauh keinginan pelanggan tertarik untuk berinteraksi dengan robot. Atau singkatnya, orang yang pandai bersosialisasi atau penuh dengan sense atau personal touch, agak sulit digantikan dalam waktu dekat.

Bagi yang bekerja di area yang lebih lambat, seperti tukang pipa, pekerja konstruksi ataupun desainer grafis, yang kurang bergantung pada ketrampilan social manusia. Ataupun yang cuma mengandalkan kemampuan langsung, maupun kreativitas dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang tidak terstruktur. Masih sulit digantikan, karena masih banyak kekurangan dari kecerdasan buatan dalam area ini. Akan tetapi seiring dengan kemajuan teknologi, kekurangan ini akan teratasi. Sehingga kapan pekerjaan tersebut hilang, tergantung pada perluasan kemampuan kecerdasan buatan yang sebenarnya.

Untuk menyambut kedatangan era kecerdasan buatan yang pasti akan membawa dampak besar tentang pekerjaan di Indonesia, mungkin ada beberapa tips yang harus diperdalami. Lebih-lebih bagi pemuda Indonesia supaya bisa berjalan seiring era baru ini. Komputer vision, deep learning, Big Data, robot vision, maupun Information Retrieval serta Natural Language Processing. Supaya dapat lebih berinovasi maupun menciptakan aplikasi cerdas yang dibutuhkan di masa depan.

Diperkirakan, dalam waktu 5-10 tahun mendatang, perusahaan yang tidak menerapkan komputer pintar atau machine learning, bakalan drop out dalam persaingan. Alasannya, efisiensi tenaga kerja. Dan proses kerja yang cepat dan akurat.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Big data, Kecerdasan buatan, Machine learningTags: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: